Banjir Sumatra Ramai Diberitakan Media Asing, tapi Pemerintah Belum Buka Bantuan dari Luar Negeri
Banjir di Sumatra ramai diberitakan media asing, namun pemerintah hingga saat ini belum membuka bantuan dari luar negeri.
Penulis:
Pravitri Retno Widyastuti
Editor:
Nuryanti
ABC Australia juga mewawancarai warga lokal di Sumatra Utara, Ramlan, mengenai banjir yang terjadi.
Ramlan menilai banjir disebabkan oleh hutan yang dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit.
"Taman Nasional Leuser telah diambil alih oleh kelapa sawit," katanya, merujuk pada taman yang merupakan salah satu dari dua habitat tersisa bagi orangutan Sumatra dan juga rumah bagi gajah, badak, dan harimau.
"Saya rasa itu penyebab banjir bandang ini, air hujan yang deras sudah tidak mampu ditampung lagi oleh hutan."
"Sekarang, rakyat kecil seperti kami yang menanggung beban dan pengusaha dari luar Langkat yang menikmati keuntungannya," imbuh dia.
Reuters kembali memberitakan banjir Sumatra dengan artikel berjudul Deadly Sumatra flooding triggers memories of Indian Ocean tsunami, Jumat (5/12/2025).
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Akui Umrah tanpa Izin Mendagri Tito dan Gubernur, Bakal Diperiksa saat Pulang
Seorang nelayan di Aceh, Effendi Basyaruddin, mengaku dampak banjir yang terjadi saat ini, melebihi bencana tsunami pada 2004 silam.
"Saya melihat gelombang tertinggi saat tsunami, sekitar 20 meter," kata Effendi kepada Reuters.
"Tapi banjirnya lebih besar ... desa-desa menjadi sungai."
Reuters juga mengutip pernyataan Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, yang menangis karena mengaku tak sanggup menangani bencana banjir di wilayahnya tanpa bantuan dari pusat.
Ia sudah meminta meminta pemerintah untuk menetapkan status darurat nasional atas bencana tersebut agar dapat menyediakan dana tambahan untuk upaya penyelamatan dan bantuan.
"Saya tidak sanggup... jumlah korbannya luar biasa. Rumah-rumah warga hancur. Tidak ada perhatian dari pemerintah pusat," ujarnya sambil menangis dalam sebuah video yang beredar.
Reuters melaporkan, minggu ini, pemerintah Indonesia mengatakan selalu mendukung pemerintah daerah, dan menambahkan anggaran Rp500 miliar yang disisihkan untuk bantuan bencana sudah cukup dan dapat ditingkatkan jika diperlukan
Presiden Prabowo Subianto, ketika ditanya awal minggu ini tentang deklarasi keadaan darurat nasional, mengatakan situasi membaik dan pengaturan saat ini sudah memadai.
Sementara itu, artikel terbaru dari Al Jazeera, Sabtu (6/12/2025), berjudul Heavy rains hamper recovery as death toll from floods in Asia exceeds 1,750, melaporkan kelaparan masih menjadi ancaman paling serius bagi korban banjir Sumatra, terlebih bagi mereka yang berada di desa terpencil dan sulit dijangkau.
Baca tanpa iklan