Mengurai Pola Pikir Gen Z: Haus Keadilan, Antikekerasan dan Pro Keberagaman
Gen Z adalah generasi yang lahir kira-kira antara tahun 1997 hingga 2012, dan merupakan generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam era digital
Penulis:
Muhammad Zulfikar
Editor:
Eko Sutriyanto
"Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, ini terasa seperti pembangkangan. Padahal sering kali, mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka ingin diajak berdialog, bukan sekadar diperintahkan," kata Syam Basrijal.
Di sisi spiritualitas, Gen Z sering dianggap jauh dari agama. Padahal yang mereka hindari adalah pendekatan keagamaan yang kaku dan keras. Mereka mencari referensi spiritual dari internet, mengikuti figur agama di media sosial, dan belajar melalui konten singkat yang menyentuh hati.
Fenomena ini disebut Syam sebagai “spiritualitas instan”. Meski demikian, mereka tetap membutuhkan pendamping yang mau mendengar tanpa menghakimi dan tidak mudah memberi label negatif seperti kafir atau kurang beriman.
"Mereka butuh pendamping yang mau mendengarkan tanpa men-cap, menjawab dengan hati, dan mengaki bahwa ada misteri yang tidak selalu harus dijawab tapi bisa dihidupi," imbuh Syam Basrijal.
Cara Pandang terhadap Pekerjaan dan Kepemimpinan
Dalam dunia kerja, Gen Z memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mencari pekerjaan yang bermakna, memberi kesempatan tumbuh, dan berada dalam lingkungan yang sehat.
Mereka menolak budaya lembur tanpa arah dan tidak betah dalam lingkungan kerja toksik. Gen Z lebih memilih pindah pekerjaan atau membangun usaha sendiri daripada terjebak dalam sistem yang merusak mental mereka.
"Mereka tetap ingin gaji yang layak, itu jelas. Tetapi setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka akan menoleh kepada pertanyaan lain ; apakah pekerjaan ini membuatku berkembang, apakah lingkungan kerjaku sehat, dan apakah yang aku lakukan berdampak nyata?" ujarnya.
Syam menegaskan bahwa sikap ini bukan bentuk kemanjaan, melainkan usaha menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Karena itu, Gen Z cenderung mencari pemimpin yang bersikap sebagai mentor—tegas, jelas, tetapi terbuka pada dialog.
Mereka menghargai pemimpin yang mau mendengar gagasan, memberi ruang diskusi, dan mampu memberi teladan nyata, bukan sekadar jabatan atau wewenang.
Bahkan dalam hal karier, banyak Gen Z memilih jalur non-monoton seperti berwirausaha. Mereka tidak tertarik pada pola kerja tradisional yang menuntut bertahan puluhan tahun demi pensiun. Mereka ingin tantangan, fleksibilitas, dan kebebasan memilih jalan hidup.
Syam menekankan bahwa Gen Z bukan sekadar generasi yang kecanduan gadget. Mereka adalah calon pemimpin, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua masa depan.
Mereka harus membaca dan memahami dunia yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Dengan regulasi yang jelas dan pendampingan yang baik, Gen Z dapat menjadi generasi yang membawa Indonesia ke arah yang lebih sehat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Generasi Z bukan sekadar anak-anak yang kecanduan gawai. Mereka adalah calon pemimpin, pengusaha, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua di masa depan. Mereka sedang belajar membaca dunia yang jauh lebih rumit daripada dunia yang kita hadapi di usia mereka dulu," kata Syam Basrijal.
Baca tanpa iklan