Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

James Riady: Dalam Dunia yang Terfragmentasi, Indonesia Justru Semakin Menarik

Jika 2025 adalah tahun penyesuaian dan transisi, kata James, tahun 2026 bisa menjadi tahun antisipasi dan keberanian.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Hasanudin Aco
zoom-in James Riady: Dalam Dunia yang Terfragmentasi, Indonesia Justru Semakin Menarik
Istimewa
KADIN INDONESIA - Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady pada "Kadin Indonesia Friday Breakfast, Pertemuan Penutup Tahun" yang diadakan di Hotel Aryadutta, Jakarta, Jumat (12/12/20225). 

Ringkasan Berita:
  • Dunia saat ini semakin terfragmentasi yang terlihat pada kompetisi negara besar semakin tajam, aliansi global yang bergeser, dan konflik yang berpotensi meluas.
  • Di sisi lain  ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh dengan sejumlah paramater positif yang ditorehkan terutama di sektor perekonomian
  • Jika 2025 adalah tahun penyesuaian dan transisi, James Riady mengatakan di tahun 2026 bisa menjadi tahun antisipasi dan keberanian

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi yang terlihat pada kompetisi negara besar semakin tajam, aliansi global yang bergeser, dan konflik yang berpotensi meluas, ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh. Indonesia memasuki tahun 2026 dengan modal yang cukup, Inflasi terkendali, disiplin fiskal yang terjaga, konsumsi domestik yang kuat, komposisi demografi yang didominasi usia produktif, dan nilai tukar yang relatif tangguh dibanding banyak emerging market lain.

“Indonesia memasuki tahun 2026 tidak dengan tangan kosong,” kata Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady pada  Kadin Indonesia Friday Breakfast, Pertemuan Penutup Tahun di Hotel Aryadutta, Jakarta, Jumat (12/12/20225).

Baca juga: Dukung Kebijakan Presiden, Bamsoet Ajak Konglomerat dan Pengusaha KADIN Bantu Korban Bencana

Hadir pada kesempatan itu para pimpinan dan anggota Kadin pusat dan daerah.  

James menjelaskan  pertemuan rutin bulanan pimpinan dan anggota Kadin  merupakan ruang diskusi yang jujur, penuh wawasan, dan penuh kehangatan, tempat para pemimpin bisnis dapat memikirkan bersama tantangan yang dihadapi  dan peluang yang harus diraih bersama.

Baca juga: Tidak Ada Pupuk Tanpa Gas, KADIN Ingatkan Titik Kritis Ketahanan Pangan

“Dan yang lebih penting, komunitas Kadin  memberi kita alasan kuat untuk optimistis,” ujar James. Meskipun dunia penuh ketidakpastian, lanjutnya, Indonesia memiliki pengusaha yang tetap membangun, perusahaan yang terus berinvestasi, inovator yang terus mencipta, dan para pemimpin yang tidak mudah patah oleh berita-berita buruk.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika 2025 adalah tahun penyesuaian dan transisi, kata James, tahun 2026 bisa menjadi tahun antisipasi dan keberanian.

“Jangan sampai kita menjadi kelompok yang terdiam oleh risiko. Kita harus menjadi komunitas yang bergerak karena peluang,” imbau charman Lippo Group.

Karena kenyataannya, demikian James, setiap masa disrupsi global, Indonesia secara historis selalu muncul lebih kuat  asalkan para pemimpinnya tetap tenang, bekerja sama, dan melihat jauh ke depan.

 “Di tengah dunia yang tidak menentu, Indonesia justru tampil berbeda,” tukasnya.

Baca juga: Tidak Ada Pupuk Tanpa Gas, KADIN Ingatkan Titik Kritis Ketahanan Pangan

Tantangan Global

Dunia menjelang akhir 2025 menampilkan wajah yang sulit dan tidak menentu. Di saat menjelang tutup tahun, dunia berada dalam kondisi yang sangat rapuh.

Secara geopolitik, kata James, dunia  memasuki era yang paling tidak terduga dalam beberapa dekade. Ada tiga indikasi, yakni  kompetisi negara besar semakin tajam. Aliansi global yang bergeser, dan onflik yang sebelumnya regional kini berpotensi meluas.

Lembaga-lembaga dunia — IMF, World Bank, ECB, OECD — menggambarkan ekonomi global sebagai melambat, terfragmentasi, dan sedang mengalami transformasi besar.

Ada empat indikasi, yakni perdagangan dunia yang melemah, rantai pasok yang direstrukturisasi demi keamanan, bukan lagi sekadar efisiensi, utang publik di banyak negara berada pada titik tertinggi, dan perlombaan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan regulasi yang terseok-seok  mengikutinya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas