Leptospirosis Ancam Pengungsi Pasca Banjir: Kenali Gejala dan Jangan Sampai Terlambat Berobat
Leptospirosis bisa dicegah jika diwaspadai sejak awal, baik dari sisi lingkungan, perilaku masyarakat, maupun kesiapsiagaan layanan kesehatan.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan bakteri Leptospira dan ditularkan melalui urin hewan terinfeksi, terutama tikus
- Penularan dapat terjadi melalui air, lumpur, tanah, atau makanan yang terkontaminasi, kondisi ini umum ditemukan di lingkungan pascabencana
- Leptospirosis sering tidak disadari karena gejalanya ringan di awal
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengungsi pasca bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November lalu di Sumatera dihantui penyakit leptospirosis.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan bakteri Leptospira dan ditularkan melalui urin hewan terinfeksi, terutama tikus.
Penularan dapat terjadi melalui air, lumpur, tanah, atau makanan yang terkontaminasi, kondisi ini umum ditemukan di lingkungan pascabencana.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) berharap masyarakat mewaspadainya.
Peringatan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor PV.03.03/C/5559/2025 tentang Kewaspadaan Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis.
Masyarakat diminta mengenali gejala leptospirosis dan segera memeriksakan diri agar tidak terjadi komplikasi berat.
Leptospirosis sering tidak disadari karena gejalanya ringan di awal.
Baca juga: Hewan Pengerat, Banjir, dan Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan
Saat terlambat ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi berat hingga kematian.
“Leptospirosis perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah terdampak banjir,” kata Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan drg. Murti Utami di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Murti menilai sanitasi yang buruk, genangan air, serta meningkatnya populasi tikus pascabanjir menjadi faktor utama meningkatnya risiko penularan.
Aktivitas masyarakat tanpa alat pelindung diri saat membersihkan rumah atau beraktivitas di area tergenang juga memperbesar peluang infeksi.
“Jika mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, atau mata merah setelah terpapar air banjir atau lumpur, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk,” katanya.
Pihaknya meminta fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan.
Selain itu, penguatan surveilans penyakit juga menjadi perhatian utama.
Baca tanpa iklan