Dokter Tifa: Tubuh dan Kesehatan Jokowi Jadi Vonis Terakhir, Bukan Pengadilan
Dokter Tifa menilai kebohongan Jokowi membuat tekanan psikologis meningkat sehingga tubuhnya sedirilah yang menjadi penentu vonis akhir
Penulis:
Galuh Widya Wardani
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Dokter Tifa menilai polemik ijazah Jokowi yang tak kunjung selesai membuat kebohongan ditutup dengan kebohongan lain hingga berdampak pada kesehatan
- Menurutnya, hukum bisa dimanipulasi, tetapi tubuh selalu jujur dan kebohongan memicu tekanan psikologis serta melemahkan sistem imun
- Pada akhirnya, kata Dokter Tifa, bukan pengadilan yang paling keras, melainkan tubuh dan kesehatan Jokowi sendiri yang menentukan vonis akhir.
TRIBUNNEWS.COM - Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa mengatakan pada akhirnya tubuh dan kesehatan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) sendirilah yang menjadi penentu hukuman, bukan lagi pengadilan.
Hal itu diungkapkan Dokter Tifa menyikapi polemik ijazah Jokowi yang sampai hari ini tak kunjung selesai.
Jokowi, menurutnya, selalu menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.
Alhasil, tubuhnya menjadi rapuh dan jauh dari kata sehat.
Dokter Tifa menilai hukum bisa saja dimanipulasi, namun tubuh selalu jujur dengan apa yang sedang dihadapi.
Menurutnya, Jokowi menghadapi tekanan dahsyat dalam perkara dugaan ijazah palsu ini, terutama dalam hal psikologis.
Jokowi, kata dokter Tifa, harus rela membayar beban kebohongan dengan beban biologis dan psikologis.
Menurutnya, setiap kebohongan memunculkan beban emosi yang menghantam sistem imun, sebuah biaya yang tidak pernah tercatat dalam neraca keuangan maupun laporan kekuasaan.
"Biaya ini tidak tercatat di neraca keuangan, tidak tampak di laporan kekuasaan, tetapi perlahan menggerogoti pikiran, tubuh, dan sistem imun. Ia bekerja senyap, konsisten, dan kejam," kata dokter Tifa dalam unggahan Twitternya (X), Minggu (21/12/2025).
Ia menjelaskan, kejujuran sejatinya merupakan "berkat biologis dan psikologis".
Saat seseorang jujur, pikiran berada dalam satu jalur yang koheren.
Baca juga: Rismon Tetap Sebut Ijazah Jokowi Palsu Meski Sudah Lihat Langsung: Lebih Tebal Ijazah SD Saya
Tidak ada kecemasan, sehingga otak relatif tenang dan sistem imun dapat bekerja tanpa gangguan stres kronis.
Sebaliknya, kebohongan menuntut kebohongan lanjutan.
Otak lalu dipaksa hidup dalam konflik internal antara fakta dan citra.
Dalam perspektif ilmu saraf dan psiko-neuro-imunologi, kondisi tersebut memicu stres kronis: kadar kortisol meningkat, peradangan bertambah, dan sistem imun perlahan melemah.
Baca tanpa iklan