Mengapa Banjir Susulan di Sumatra Bisa Terjadi? BNPB Ungkap Penyebabnya
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan penyebab terjadi banjir susulan di Sumatra.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Wilayah itu antara lain Bireun dan Pidie Jaya di Aceh, (24/12/2025), kemudian Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) di Sumatra Utara, (7/12/2025), selanjutnya di Kota Padang, Sumatra Barat, (14/12/2025).
Curah hujan tertinggi dalam 6 tahun
Beberapa hari lalu Abdul Muhari memperlihatkan data dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang curah hujan tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Abdul menyebut hujan yang melanda Aceh pada 26 November 2025 menjadi hujan dengan curah hujan tertinggi dalam enam tahun terakhir.
"Kalau kita lihat dari catatan sejarah enam tahun terakhir, curah hujan ekstrem yang dimiliki BMKG, ini kita lihat Jakarta 2020: 377 mm/hari, 2021 (Jakarta): 226 mm/hari, kemudian Siklon Seroja 4 April 2021: 306 mm/hari."
"Dan kita lihat, untuk Siklon Senyar di Aceh, ini adalah catatan intensitas curah hujan paling tinggi yang direkam oleh BMKG dalam enam tahun terakhir," ujarnya dalam konferensi pers daring, Jumat (26/12/2025).
Abdul menyatakan curah hujan tinggi menjadi pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.
Baca juga: Update Korban Banjir Sumatra, 1.138 Jiwa Meninggal, 163 Orang Masih Hilang, 449 Ribu Warga Mengungsi
"Inilah salah satu faktor pemicu kenapa kemudian saat ini dampaknya cukup signifikan," ucap Abdul.
Berikut daftar hujan dengan curah tinggi berdasarkan catatan BMKG dalam enam tahun terakhir.
1. Jakarta, 1 Januari 2020 (377 mm/hari)
2. Jakarta, 19 Februari 2021 (226 mm/hari)
3. Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021 (306 mm/hari)
4. Jakarta, 3 Maret 2025 (232 mm/hari)
5. Bali, 10 September 2025 (385 mm/hari)
6. Sumatra Barat, 25 November 2025 (261 mm/hari)
7. Aceh, 26 November 2025 (411 mm/hari)
8. Sumatra Utara, 27 November 2025 (390 mm/hari)
(Tribunnews/Febri/Deni)