Pemerintah Cari 100 Jembatan Bailey dari Luar Negeri untuk Penanganan Bencana
Pemerintah tengah mencari 100 unit jembatan Bailey dari luar negeri untuk mendukung penanganan bencana di Sumatra.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Pemerintah tengah mencari 100 unit jembatan Bailey dari luar negeri untuk mendukung penanganan bencana di Sumatra
- Jembatan Bailey merupakan jembatan rangka baja pra-fabrikasi portabel yang mudah dirakit dan dibongkar
- KSAD menjelaskan kebutuhan jembatan darurat di wilayah terdampak bencana sangat besar dan terus bertambah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mencari 100 unit jembatan Bailey dari luar negeri untuk mendukung penanganan bencana di Sumatra.
Hal itu disampaikan KSAD saat memberikan laporan perkembangan penanganan bencana di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Senin (29/12/2025).
“Sampai dengan sekarang kami sudah mendapatkan 44 bailey dan 12 sudah selesai (dibangun). Sisanya ada 15 sedang di perjalanan, 6 sedang dipasang. Yang lain sedang kita kumpulkan lagi dan juga dari Presiden langsung (perintahkan) melalui Kemenhan akan dicari 100 bailey dari luar,” kata KSAD.
Jembatan Bailey adalah jembatan rangka baja pra-fabrikasi portabel yang mudah dirakit dan dibongkar.
Sejenis jembatan darurat namun kokoh dulu dikembangkan oleh militer Inggris pada Perang Dunia II untuk kebutuhan menyeberangkan peralatan militer.
Data terbaru banjir bandang Sumatera
Banjir bandang dan longsor besar melanda Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat) akhir November 2025 lalu.
Hingga 27 Desember 2025, tercatat 1.138 orang meninggal dunia, 163 orang masih hilang, dan lebih dari 450 ribu warga mengungsi.
Tak hanya menelan korban jiwa manusia, banjir juga menyebabkan kerusakan infrastruktur jalan raya, jembatan, listrik, bangunan rumah, dan sebagainya.
Saat ini TNI terus bergerak cepat untuk membangun jembatan sementara (bailey) agar bisa menghubungan daerah yang terputus akibat banjir.
Praktis dipakai dan cepat dikerjakan
KSAD menjelaskan kebutuhan jembatan darurat di wilayah terdampak bencana sangat besar dan terus bertambah.
Sementara proses pemasangan jembatan Bailey memerlukan tahapan panjang mulai dari survei hingga pengiriman.
“Untuk jembatan ini memang agak rumit karena setelah ada laporan kami harus survei, setelah survei apa jembatan yang paling sesuai, kami cari jembatan apa yang ini harus dikirim dari Jakarta, di Jakarta sampai di pelabuhan, di pelabuhan di jalan-jalan rusak, ada yang di jalan seminggu dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurut KSAD, jembatan Bailey yang dicari dari luar negeri tersebut tidak hanya akan digunakan untuk penanganan bencana saat ini tetapi juga untuk kebutuhan di daerah lain di seluruh Indonesia.
“100 Bailey untuk mendukung di bencana ini dan juga mungkin ini akan kita gunakan di daerah-daerah di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Selain jembatan Bailey, TNI AD juga mengerahkan jembatan Armco dan jembatan gantung sebagai solusi sementara di wilayah yang aksesnya terputus total.
KSAD menegaskan seluruh upaya tersebut dilakukan dengan kerja siang dan malam guna mempercepat pemulihan akses masyarakat di wilayah terdampak bencana.
"Mudah-mudahan bisa Januari ini bisa dirapatkan. Saya pikir paling lama Januari, Februari itu bisa terpasang semua. Armco mudah, kita tinggal pasang, jembatan juga tinggal beli alat pasang," tandasnya.
Baca tanpa iklan