Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rakyat Tolak Pilkada DPRD, Saiful Mujani Singgung Politik Uang Berasal dari Politisi

Saiful Mujani mengatakan rakyat menolak Pilkada dipilih DPRD, ia menilai politik uang bersumber dari politisi, pertanyakan kinerja wakil rakyat

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Rakyat Tolak Pilkada DPRD, Saiful Mujani Singgung Politik Uang Berasal dari Politisi
Tribunnews.com/Chaerul Umam
SURVEI SAIFUL MUJANI - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Saiful Mujani. Mengacu survei yang ia lakukan Agustus 2025, Saiful Mujani dengan tegas menyampaikan rakyat keberatan dengan usulan tersebut. 

Ringkasan Berita:
  • Saiful Mujani menegaskan mayoritas rakyat menolak pemilihan kepala daerah oleh DPRD, sebagaimana hasil survei Agustus 2025.
  • Ia menilai wacana tersebut keliru karena menyalahkan rakyat atas politik uang, padahal praktik itu bersumber dari politisi dan calon kepala daerah yang tidak kompeten.
  • Menurut Saiful, pilkada lewat DPRD justru berpotensi memperkuat oligarki partai dan bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan pemilihan langsung oleh rakyat.

TRIBUNNEWS.COM - Pendiri lembaga riset Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Saiful Mujani, ikut bersuara mengenai polemik wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Ia mempertanyakan kehadiran para pejabat wakil rakyat yang duduk di pusat, seperti DPR RI, yang justru ikut menyuarakan wacana Pilkada melalui DPRD ini.

Mengacu survei yang ia lakukan Agustus 2025, Saiful Mujani dengan tegas menyampaikan rakyat keberatan dengan usulan tersebut.

Banyak pihak memilih "Tidak Setuju" apabila gubernur, bupati/ wali kota dipilih oleh DPRD.

Ia menduga, politisi sengaja memainkan isu politik uang dan korupsi demi bisa mengusulkan Pilkada dipilih DPRD.

Padahal, menurut Saiful, politik uang bukan bersumber dari rakyat, melainkan dari politisi dan calon kepala daerah yang tidak kompeten namun memaksakan diri untuk menang dengan menyebar uang.

Rekomendasi Untuk Anda

"Politisi ingin agar kepala daerah dipilih oleh DPRD karena pemilihan langsung oleh rakyat membuat pilkada penuh politik uang, merusak persatuan. Ide politisi ini sama dengan menuduh rakyat sebagai sumber politik uang dan korupsi. Padahal yang nyebar uang itu politisi, calon nggak pantas, nggak kompeten, makasain diri ingin menang. Politisi itu sumber politik uang, bukan rakyat," kata Saiful Mujani dalam postingan Twitter-nya (X), @saiful_mujani, Senin (29/12/2025).

Saiful menilai, pemilihan gubernur, bupati/wali kota melalui DPRD adalah keinginan oligarki dalam tubuh partai.

Ia menyebut pemilihan oleh DPRD justru berpotensi memperkuat oligarki partai dan memusatkan kekuasaan pada segelintir petinggi politik.

"Yang lebih masuk akal motif ide kepala daerah harus dipilih DPRD adalah keinginan untuk kontrol hampir keseluruhan kehidupan publik oleh segelintir petinggi partai (demi) memperkuat oligarki partai," kata Saiful.

Ia juga mengingatkan bahwa Mahkamah Konstitusi telah memutuskan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat, bukan oleh DPRD. 

Baca juga: Dukung Pilkada Lewat DPRD, Gerindra: Harus Berani Ubah Sistem

Dirinya pun menyayangkan usulan tersebut muncul dari Anggota DPR RI, yang seharusnya mendengarkan suara rakyat.

"Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa kepala daerah wajib dipilih langsung oleh rakyat bukan oleh DPRD. tapi banyak partai yang mau melawan keputusan MK ini. Rakyat bersama MK."

"Survei indikator terakhir, agustus 2025: rakyat menolak kepala daerah dipilih oleh DPRD. ini konsisten sejak 2014 ketika dpr buat keputusan pilkada dipilih oleh dprd yang ditolak presiden SBY. Yang menolak pemilihan kepala daerah oleh DPRD datang dari hampir semua pemilih partai, dan hampir semua pemilih presiden. Hai politisi. anda mewakili siapa?" demikian tulis Saiful dalam unggahannya.

Wacana Pilkada Dipilih DPRD

Sebelumnya, wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali mencuat dan memicu polemik publik.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas