112 Anak Broken Home Hingga Patah Hati Terpapar Radikalisme dari Medsos dan Game Online pada 2025
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat 112 anak di 26 provinsi Indonesia terpapar konten radikalisme dari media sosial.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Adi Suhendi
Ringkasan Berita:
- Sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis
- Sebagian anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami broken heart atau patah hati
- Ajak orang tua untuk turut serta bisa merengkuh anak-anaknya dan meningkatkan literasi digital terhadap anak-anak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat 112 anak di 26 provinsi Indonesia terpapar konten radikalisme dari media sosial sepanjang 2025.
Psikolog forensik yang juga Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Reni Kusumowardhani mengungkap, berdasarkan pemeriksaan psikologis, sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis.
Selain itu, sebagian anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami broken heart atau patah hati.
"Jadi pada saat mereka sedang mulai naksir, patah hati, itu carinya juga narasi-narasi yang bisa membangun semangat mereka," ujar Reni dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 yang digelar BNPT di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
"Nah, kerentanan ini mudah sekali untuk ditangkap oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," imbuhnya.
Kondisi psikologis lain yang juga mereka hadapi, kata Reni, adalah broken dream.
Baca juga: Tingkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama BNPT Gandeng Ponpes di Rembang Jateng
Broken dream yang Reni maksud, adalah mengalami kebingungan dengan situasi masyarakat saat ini.
"Menurut mereka, pernyataan mereka bingung dengan situasi masyarakat sekarang, situasi keadaan sekarang di mana informasi itu sekarang mereka sangat sulit ya untuk membedakan antara yang hoaks dengan yang informasi yang bisa dipercaya," ujarnya.
Reni mengatakan anak-anak memiliki ekologi perkembangannya sendiri.
Ekologi perkembangan yang paling kecil dan yang paling dekat dengan mereka, kata dia, adalah orang tua dan sekolah.
Baca juga: BNPT Sebut Pelaku Ledakan SMAN 72 Akses Grup True Crime Community, Diduga Terpapar Kekerasan Mimesis
Sedangkan negara, BNPT maupun kementerian lainnya ada di ranah makrosistem.
Makrosistem tersebut, kata dia, tidak bisa optimal apabila tidak ada peran serta dari pihak-pihak di mikrosistem.
Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk turut serta bisa merengkuh anak-anaknya dan meningkatkan literasi digital terhadap anak-anak.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dari bahaya-bahaya yang mungkin muncul melalui dunia digital.
"Mereka harus punya kedekatan juga bagaimana membangun sebuah relasi emosional agar anak-anak ini berani menolak dan tahu," ucapnya.
Baca tanpa iklan