Sistem Pertahanan Udara Buk-MB2K Belarusia Jadi Penjaga Langit Indonesia?
Militer Indonesia santer disebut akan memiliki sistem pertahanan udara Buk-MB2K buatan Belarusia.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Tantangan Interoperabilitas
Jika Indonesia memutuskan untuk mengoperasikan sistem Buk-MB2K dari Belarusiaia, TNI akan menghadapi beberapa tantangan signifikan yang mencakup aspek geopolitik, teknis, hingga logistik.
Apalagi, TNI saat ini bergerak menuju konsep Network Centric Warfare (NCW) di mana semua alutsista harus bisa saling berkomunikasi.
Komunikasi Antar-Sistem:
Indonesia sudah mengoperasikan NASAMS (Barat) yang menggunakan standar data-link Link 16.
Menyatukan sistem Buk-MB2K (Blok Timur) agar bisa "berbicara" secara real-time dengan NASAMS atau jet tempur Rafale dan F-16 akan memerlukan integrasi perangkat lunak yang sangat kompleks dan mahal.
Risiko Friendly Fire:
Tanpa integrasi yang sempurna pada sistem IFF (Identification Friend or Foe), risiko salah tembak terhadap pesawat kawan menjadi lebih tinggi.
Persoalan Logistik Bakal Menghadang
Belarusia memang menawarkan kemandirian, namun stabilitas pasokan tetap menjadi tanda tanya.
Ketersediaan Suku Cadang:
Jika Belarusia terkena sanksi internasional yang lebih berat atau terlibat langsung dalam konflik regional, jalur pasokan suku cadang dan rudal 9M318 ke Indonesia bisa terputus.
Ketergantungan pada Teknisi Asing:
Sebagai sistem yang relatif baru bagi TNI, pada tahun-tahun awal pengoperasian, TNI akan sangat bergantung pada teknisi dari Belarusia untuk pemeliharaan tingkat berat (depot level maintenance).
Baca tanpa iklan