Makna di Balik Ucapan Prabowo: PKB Harus Diawasi Terus
Terkait soliditas di koalisi pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus terus diawasi.
Penulis:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Presiden Prabowo Subianto mengatakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus terus diawasi.
- Prabowo meminta seluruh jajaran Kabinet Merah Putih untuk benar-benar menjalankan niat baik demi kepentingan rakyat
- PKB pastikan punya rekam jejak setia terhadap pemerintahan di era SBY hingga Jokowi
- Pengamat nilai PKB punya potensi untuk berbeda jalan dengan koalisi pendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terkait soliditas di koalisi pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus terus diawasi.
“Tapi di sini koalisi kita kuat kan? Ketua partai semua ada di semua ya? Ada? Ketua PKB ada? PKB yang harus diawasi terus ini,” ucap Prabowo dengan nada bercanda saat rapat dengan seluruh menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2025).
Prabowo meminta seluruh jajaran Kabinet Merah Putih untuk benar-benar menjalankan niat baik demi kepentingan rakyat.
“Kalau orang jahat mengejek kita, berarti kita benar dan kita harus terus melaksanakan dan membela kebenaran.”
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menanggapi Prabowo.
“Bercanda, bercanda, bercanda doang, sering begitu, bercanda begitulah, gojlokan begitu,” ujar Muhaimin dikutip dari Kompas.TV.
Pasang Surut Hubungan Muhaimin dan Prabowo
- Tahun 2023 menjelang Pemilihan Presiden 2024, Cak Imin keluar dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) pendukung Prabowo jadi calon presiden.
- Cak Imin bergabung dengan gerbong Anies Baswedan untuk Pilpres 2024.
- Setelah Prabowo menang di Pilpres 2024, Cak Imin kembali bergabung dan diangkat jadi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
PKB: Kami Setia
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Syaiful Huda mengatakan partainya tidak akan meninggalkan komitmen politik yang sudah disepakati dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ketika PKB sudah menjatuhkan pilihan koalisi politik dalam sepanjang sejarah, kami tidak pernah goyah, kami tidak pernah meninggalkan komitmen politik itu,” katanya dikutip Kompas.TV, Rabu (7/1/2026).
Dia menuturkan rekam jejak kesetiaan PKB terhadap komitmen politik, sudah teruji saat mendukung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Mulai sejak Pak SBY 10 tahun, Pak Jokowi 10 tahun dan track record kita memang di situ, begitu PKB menentukan sikap politik di bawah kepemimpinan Cak Imin (Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar), tidak punya pilihan ganda,” ucap Syaiful.
“Begitu kami menjatuhkan pilihan koalisi menjadi bagian dari pemerintah, saat itu pula PKB komit dan sudah teruji dalam perjalanan sejarah.”
Pengamat: Potensi Beda Jalan
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai PKB punya potensi untuk berbeda jalan dengan koalisi pendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Menurut dia hal itu yang menjadi alasan Prabowo mengatakan hal tersebut meskipun menyampaikannya dengan cara bercanda.
“Saat ini ada nuansa bagaimana membangun apa yang disebut dengan koalisi permanen. Nah koalisi permanen ini tentu bukan hanya ingin mengamankan dan sekaligus menyamakan kepentingan-kepentingan partai koalisinya Pak Prabowo. Tapi tentu untuk kepentingan jangka panjang di 2029, jangan ada yang kemudian misalnya beda mazhab dan beda jalan. Nah diantara partai politik yang ada itu yang punya potensi rasa-rasanya untuk agak beda jalan sepertinya PKB,” ungkap Adi dikutip dari Kompas.TV.
Apalagi, kata dia, PKB tidak punya sejarah berkoalisi dengan Prabowo dalam pemilu presiden sebelumnya.
“Ini semacam kode keras ya. Ini untuk membangun bagaimana kebersamaan di 2029. PKB saat ini menjadi bagian dari koalisi pemerintah, Ayolah terus bersama, kan kira-kira begitu,” ujar Adi.
“Karena dulu kan kita juga tau, PKB sama Pak Prabowo ini kan mau kerja sama kan di 2024. Tiba-tiba PKB lebih memilih dengan Anies Baswedan.”
Baca tanpa iklan