Pidato Lengkap Megawati Soekarnoputri di Rakernas PDIP, Singgung Bencana dan Imperialisme Modern
Menurut Megawati, sejumlah undang-undang dan regulasi justru membuka ruang bagi eksploitasi alam secara berlebihan.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Muhammad Zulfikar
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Para kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di seluruh penjuru Tanah Air, Para Kawan Juang PDI Perjuangan, Dan seluruh Rakyat Indonesia yang saya cintai.
Sebelum saya menyampaikan pidato politik ini, izinkan saya, atas nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana hidrometeorologi yang menimpa saudara-saudara kita di Provinsi Aceh,
Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Doa dan solidaritas kita panjatkan bagi para korban, serta kekuatan dan ketabahan bagi seluruh keluarga yang terdampak.
Hari ini, kita memperingati Hari Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ke-53, sekaligus melaksanakan Rapat Kerja Nasional I Tahun 2026. Bagi saya, peringatan ini bukan sekadar peristiwa seremonial atau rutinitas politik tahunan, melainkan momentum ideologis untuk melakukan refleksi mendalam, termasuk kritik dan otokritik atas kerja-kerja kepartaian yang telah kita jalankan.
Hari Ulang Tahun Partai tidak hanya mengajak kita menoleh ke belakang untuk menghargai sejarah perjuangan, tetapi juga menatap ke depan untuk menegaskan kembali arah, tujuan, dan cita-cita Partai. Inilah saatnya memperkuat agenda strategis, menajamkan garis kebijakan, serta mempertegas sikap politik Partai dalam menghadapi tantangan zaman—mulai dari krisis geopolitik, krisis demokrasi, ketimpangan sosial, hingga krisis ekologis yang kian mengancam keselamatan rakyat dan masa depan bangsa.
Pada akhirnya, makna terdalam dari peringatan Hari Ulang Tahun Partai adalah pertanggungjawaban moral kepada rakyat. Partai lahir dari rahim akyat, tumbuh oleh kepercayaan rakyat, dan hanya akan bermakna jika setia mengabdi kepada rakyat. Legitimasi Partai tidak ditentukan oleh usia organisasi atau jumlah kursi kekuasaan, melainkan oleh keberpihakan nyata kepada rakyat dan kebenaran sejarah.
Saudara-saudara sekalian, Di tengah krisis global, dunia kembali dihadapkan pada praktik lama yang seharusnya ditinggalkan: intervensi, pemaksaan kehendak, dan penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat.
Saya menyampaikan sikap tegas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terhadap setiap bentuk intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui operasi militer yang telah memicu kecaman internasional sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.
Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa. Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa.
Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya. Karena itu, PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil.
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, Hari ini, umat manusia sedang menghadapi ancaman terbesar sepanjang sejarah peradabannya. Untuk pertama kalinya, bumi yang kita huni menjadi lebih panas dibandingkan seratus ribu tahun terakhir. Badai, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan datang silih berganti, menghantam kehidupan manusia tanpa memandang batas negara, ideologi, maupun kelas sosial.
Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Niño yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global. Memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri—sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan.
Dan di negeri kita sendiri, pada 23 November 2025, hujan ekstrem telah memicu bencana ekologis dan kemanusiaan berskala besar. Puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh. Ribuan nyawa melayang, ratusan dinyatakan hilang, dan ratusan ribu rakyat terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya.
Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah. Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik, apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya—gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif.
Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini.