Pengamat Sebut Rakernas PDIP Krusial Hadapi PSI dan Gerindra di Jawa Tengah
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, momentum Rakernas PDI Perjuangan perlu dijadikan wadah untuk membaca ulang peta politik di Jawa Tengah.
Penulis:
Danang Triatmojo
Editor:
Wahyu Aji
Pada pemilu lalu, PSI mendapatkan total 12 kursi yang terdiri atas lima kursi DPRD Kota Semarang, lima kursi DPRD Kota Solo, dan dua kursi DPRD Provinsi Jateng.
Jateng sendiri sudah lama dianggap sebagai "kandang banteng" karena PDIP bisa dikatakan sangat kuat di provinsi itu. Oleh karena itu, pernyataan Kaesang tentang "kandang gajah" menuai sorotan luas.
Pengamat: Dianggap perang terbuka melawan PDIP
Adi Prayitno, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan ada banyak pihak yang menganggap pernyataan Kaesang di atas sebagai perang terbuka PSI melawan PDIP.
Menurut Adi, target PSI menjadikan Jateng sebagai kandang gajah adalah target yang sulit karena PDIP sangat kuat di sana. Dia merasa yang punya peluang menggeser PDIP di Jateng adalah partai-partai besar, bukan PSI.
“Jawa Tengah adalah kandangnya banteng. Pileg kemudian pilpresnya, termasuk soal pilkadanya, secara relatif dalam setiap kompetisi, PDIP selalu memenangkan pertarungan secara signifikan,” kata Adi dalam kanal YouTube miliknya, Sabtu, (11/1/2026).
Adi mengatakan pernyataan Kaesang tentang target PSI di Jateng dianggap sebagai pernyataan yang tidak rasional dan tidak didasarkan atas perhitungan politik yang terukur.
Lalu, dia menyampaikan dalam Pilgub Jateng 2024, PDIP memang kalah. Meski demikian, partai berlogo banteng itu sangat kuat di Jateng dalam Pileg 2024. Buktinya, PDIP berhasil menang di 19 kabupaten/kota.
“Ini PSI belum pernah lolos ke parlemen, tapi targetnya adalah menjadikan sebagai kandang gajah, itu dianggap sebagai pernyataan politik yang berlebihan, dianggap terlampau bombastis,” kata Adi.
Baca juga: PSI Hendak Ubah Basis PDIP di Jateng Jadi Kandang Gajah, Djarot Tersenyum Lebar
Alumni UIN Jakarta dan Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan pernyataan Kaesang tersebut pasti dikaitkan dengan rivalitas lanjutan antara mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan PDIP.
“Apa pun judulnya, Kaesang adalah putra Jokowi, saat ini menjadi Ketua Umum PSI. Bicara tentang Jawa Tengah, kandang PDIP, kandang banteng, maka publik menganggap ini adalah semacam rivalitas yang kemudian akan terus berlanjut.
Menurut Adi, dari dulu hingga sekarang ada perdebatan bahwa PDIP kuat di Jateng karena ada faktor Jokowi. Di sisi lain, para politikus PDIP menganggap partai mereka kuat di Jateng karena PDIP memang solid di sana dan tidak ada sosok yang dianggap paling menonjol melampaui PDIP.
“Wajar kalau kemudian pernyataan Kaesang ini dianggap semacam psywar politik, semacam perang politik terbuka yang mulai digemakan oleh Kaesang ketika menyampaikan pidato politik,” katanya.
Kemudian, dia menyinggung gagalnya PSI lolos ke parlemen pada Pemilu 2024. Pada saat itu Kaesang sudah menjadi Ketua Umum PSI dan masih menjadi putra seorang presiden.
“Tahun 2029 Kaesang tidak lagi menjadi anak presiden dan posisinya per hari ini adalah sebagai ketua umum tentu sedang diuji,” ucap Adi.
“Apakah statement-statement-nya ini akan berdampak pada bagaimana semangat politik yang dimiliki oleh kader-kader PSI di Jawa Tengah berlipat ganda dan kemudian akan memenangkan pertarungan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang gajah, bukan kandang banteng.”
Baca tanpa iklan