Tambah Anggaran Riset jadi Rp12 Triliun, Prabowo Berharap Bisa Tingkatkan Pendapatan Negara
Prabowo memutuskan untuk menambah anggaran riset sebesar 50 persen, dari yang awalnya hanya Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
Penulis:
Taufik Ismail
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Prabowo tambah anggaran riset 50 persen
- Riset difokuskan pada pangan, energi, dan industri strategis
- Riset dituntut berdampak pada ekonomi dan pendapatan negara
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan 1.200 akademisi bidang sosial dan humaniora yang terdiri dari rektor, guru besar, hingga dekan di Istana Negara, Jakarta, Kamis, (15/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan taklimat secara tertutup selama kurang lebih 3 jam.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut Presiden memutuskan untuk menambah anggaran riset sebesar 50 persen, dari yang awalnya hanya Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
"Salah satunya adalah dilaporkan bahwa dana riset di Perguruan Tinggi itu nilainya hanya Rp8 triliun, itu setara dengan 0,34 persen dari APBN kita. Dan oleh karena itulah dalam forum tadi, Bapak Presiden langsung memutuskan untuk memberikan tambahan dana anggaran sebesar Rp4 triliun," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta.
Penambahan anggaran riset tersebut diharapkan dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN.
Pemerintah menekankan agar riset diutamakan untuk mengejar swasembada pangan dan swasembada energi.
"Mempersiapkan industrialisasi dan hilirisasi yang tahun ini akan mulai dilakukan groundbreaking besar-besaran yang tentunya membutuhkan sumber daya-sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya.
Fokus Riset
Dalam kesempatan terpisah Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan bahwa Presiden mengarahkan agar riset kedepannya fokus untuk meningkatkan sektor pangan. Presiden ingin setelah tercapainya swasembada beras, komoditas lainnya dapat juga bisa berdikari.
"Jadi pangan ini, swasembada beras sudah tercapai, sebentar lagi jagung, kemudian yang penting lagi adalah bawang putih, kemudian juga kedelai, serta produk-produk protein hewani, seperti apa? Seperti susu, sapi, dan lain sebagainya," katanya.
Selain itu riset juga difokuskan untuk mempercepat terwujudnya ketahanan energi. Termasuk transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan.
"Karena tidak mungkin kita berbasis pada teknologi fosil seperti sekarang ini," katanya.
Riset juga dititikberatkan untuk industri strategis, diantaranya industri dengan teknologi tinggi (high tech) dan juga industri yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.
"Seperti industri sepatu, industri tekstil, industri elektronik, semi konduktor, ya, itu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga itu harus diselamatkan. Sehingga kita diharapkan memiliki kekuatan daya saing dalam industri-industri itu," katanya.
Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan bahwa Presiden Prabowo meminta agar riset riset yang dilakukan, pada ujungnya bisa meningkatkan pendapatan negara. Dalam pertemuan, Presiden kata Brian menyampaikan bahwa apabila pahlawan di zaman dulu adalah yang bisa melawan penjajah, pahlawan di masa kini adalah yang bisa melakukan inovasi dan terobosan.
Baca tanpa iklan