Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Sraddha Sala Selamatkan Naskah Kuno Jawa dan Menjaga Warisan Leluhur dari Desa

Upaya komunitas Sraddha Sala merawat naskah kuno Jawa dari desa, demi menyelamatkan warisan leluhur yang belum terdata oleh negara.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kisah Sraddha Sala Selamatkan Naskah Kuno Jawa dan Menjaga Warisan Leluhur dari Desa
Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret salah satu naskah kuno Jawa yang diselamatkan Komunitas Sraddha Sala diambil Kamis (15/1/2026). Upaya komunitas Sraddha Sala merawat naskah kuno Jawa dari desa, demi menyelamatkan warisan leluhur yang belum terdata oleh negara. 

Menurut dosen Politeknik Insan Husada Surakarta itu, oknum pemburu barang antik kerap berpura-pura menjadi petugas dinas pemerintah untuk meminjam naskah, namun tidak pernah mengembalikannya.

Potret alat-alat untuk merawat naskah kuno Jawa yang dilakukan Komunitas Sraddha Sala
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret alat-alat untuk merawat naskah kuno Jawa yang dilakukan Komunitas Sraddha Sala diambil Kamis (15/1/2026).

"Nah itu yang kadang-kadang sulitnya di situ karena mereka berpikir kita pemburu. 'Wah iki kolektor iki', tapi memang bener karena ternyata ada pemburu memang gitu yang mendatangi, mengaku dari dinas, dipinjam tidak kembali." 

"Kasus-kasus itu di kampung-kampung marak, karena gampang maaf ya gampang diapusi (dibohongi). Wong lugu itu lho. Jadi apalagi sama pemerintah kan mereka takut," ungkapnya.

Inovasi Ekonomi dan Minat Generasi Muda

Untuk menarik minat generasi muda terhadap manuskrip kuno, Sraddha melakukan upaya alih wahana atau alih media, seperti mengaplikasikan desain naskah dan aksara Jawa kuno pada kaos atau produk fesyen lainnya. 

"Alih wahana, alih media itu sangat sangat menarik ya bagi mereka (generasi muda). Jadi jadi desain, jadi kaos, jadi ya baju-baju kayak gini, baju-baju yang sangat provokatif ya, bertulis 'ndeder kautaman' (menanam kautaman)," tuturnya.

"Nah mereka sebenarnya bangga juga, jadi kayak kayak di Telomoyo kemarin itu desanya punya prasasti, punya prasasti di batu ada aksara Jawa Kuno. Nah mereka tertarik untuk melukis, dilukis ulang, dadi alih wahana, alih media itu mereka sangat tertarik. Apalagi yang berbau ekonomi, lebih menarik ya buat anak-anak sekarang atau mungkin ya nggak anak-anak juga, mungkin orang tua kalau ada ekonomi itu kaeke dikembangkan," sambungnya.

KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta, diunduh Kamis (15/1/2026).
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta, diunduh Kamis (15/1/2026). (HO/IST)

Selain aspek visual, integrasi naskah dengan nilai ekonomi menjadi daya tarik yang sangat kuat. 
Sebagai contoh, penemuan narasi sejarah dalam naskah mengenai perkebunan kopi di zaman Mangkunegara IV telah berhasil mendorong warga di daerah Wonogiri untuk kembali menanam kopi dan membuka kedai. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Kayak kemaren saya di daerah Bulukerto, Girimarto, Wonogiri ujung sana, jadi mereka dalam sejarahnya itu menanam jagung dan ketela sepanjang wis selama itu ya, terus kami itu ke sana bawa cerita gitu, bawa cerita bahwa di zaman Mangkunegara IV ini daerah ini namanya hutan Gondosini." 

"Nah ini dulu pernah jadi percontohan kopi di zaman Mangkunegara IV. Kenapa kita nggak nanam kopi aja? Sekarang mereka panen kopi, Mas, punya kedai kopi," katanya.

pendiri komunitas Sraddha Sala, Rendra Agusta
KOMUNITAS SRADDHA SOLO - Ahli filologi peneliti kajian naskah kuno sastra Jawa sekaligus pendiri komunitas Sraddha Sala, Rendra Agusta saat di temui di Sraddha Institute Surakarta, Kamis (16/1/2026).

Hal ini menciptakan rantai ekonomi baru yang menghubungkan petani di desa dengan pasar di perkotaan melalui bantuan komunitas sebagai konektor budaya.

"Iya nilai ekonomi. Jadi mereka, 'Lha aku gak ngerti carane dodol pie?' gitu. Tak hubungkan dengan temen-temen komunitas yang di Kota Wonogiri, kalau mereka panen bisa langsung nyetor ke roaster-nya di sana, nanti dari Wonogiri dijual ke sini, di Solo ke Toko Pojok, Toko Pojok baru ke kedai-kedai di Solo Raya," lanjut Rendra.

Tren Gaya Hidup Sehat melalui Manuskrip

Saat ini naskah kuno juga menjadi rujukan utama dalam tren gaya hidup sehat atau wellness yang meningkat pascapandemi. 

Menurut lulusan lulusan program studi Sastra Daerah (S1) dan Kajian Budaya (S2), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu, kini banyak pelaku usaha di Solo dan sekitarnya menggunakan narasi dari manuskrip untuk meningkatkan nilai jual produk tradisional seperti jamu sehingga harga jualnya bisa meningkat berkali-kali lipat jika dikemas dengan konsep yang tepat. 

"Iya, jadi sekarang yang sedang tren gitu apalagi setelah pandemi, isu wellness itu kenceng banget. Sekarang semua orang kayak bikin wellness, wellness, festival wellness, apa Solo ya bikin apa kemarin ya, Solo Wellness Festival. Nah itu kemudian sekarang agak kenceng, jadi beberapa kedai gitu ya yang pernah saya kunjungi terus itu membuat sesuatu yang dari naskah itu menjadi narasi agar nilainya naik."

"Jadi sama-sama jualan jamu tapi kalau kamu punya kedai proper terus ada kebonnya ada aktivitas permakulturnya, harganya bisa dua tiga kali lipat. Dan pasare jelas ya orang-orang kota," terangnya.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas