Puti Guntur Soekarno: Masyarakat Jepang Telah Jalankan Nilai Pancasila
Anggota DPR RI Komisi X Puti Guntur Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Kediaman Duta Besar Jepang di Jakarta.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Anggota DPR RI Komisi X Puti Guntur Soekarno menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Jepang periode 2025.
- Puti menuturkan hubungan panjangnya dengan Jepang sejak 2015, termasuk menginisiasi pendirian Soekarno Research Centre di Jepang dan menyampaikan ceramah tentang pemikiran Bung Karno.
- Melalui pendekatan people-to-people diplomacy, Puti menilai nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Komisi X Puti Guntur Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Kediaman Duta Besar Jepang di Jakarta.
Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum penerimaan penghargaan dari Menteri Luar Negeri Jepang periode 2025, sebagai bentuk apresiasi atas perannya saat menjabat Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI dengan Parlemen Jepang periode 2019–2024.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Presiden Keempat RI Megawati Soekarnoputri, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, mantan Duta Besar RI untuk Jepang Heri Ahmadi, serta keluarga besar Kedutaan Besar Jepang.
Puti mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Jepang telah terjalin sejak 2015, bermula dari ketertarikan Kokushikan University terhadap nilai-nilai pemikiran Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
"Saat itu, Kokushikan University ingin mengenal nilai-nilai yang dimiliki Bung Karno. Dari dialog yang terus berlanjut, saya kemudian menginisiasi berdirinya Soekarno Research Centre di Jepang," ujar Puti melalui keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).
Melalui forum akademik tersebut, ia juga mendapat kesempatan memberikan ceramah mengenai pemikiran Bung Karno dengan tema "Pancasila Bintang Penuntun" dan "Pancasila Menuju Tata Dunia Baru".
Puti menjelaskan, pemikiran Bung Karno tentang Pancasila menawarkan alternatif solusi bagi dunia, bahwa kemajuan global harus berpijak pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan.
"Saya percaya implementasi Pancasila harus sesuai perkembangan zaman agar dapat menjadi arus menuju tata dunia baru. Ini menjawab pertanyaan bagaimana Indonesia yang heterogen bisa bersatu dan berkontribusi bagi perdamaian global. Jawabannya ada di Pancasila," tutur cucu Presiden pertama RI tersebut.
Menurutnya, pengalaman dialog antara Indonesia dan Jepang telah membuka ruang pertukaran nilai yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga menyentuh praktik kehidupan sehari-hari dalam membangun dunia yang lebih adil dan bermakna.
Puti menilai, nilai-nilai Pancasila secara tidak langsung telah tercermin dalam kehidupan masyarakat Jepang, seperti semangat kebersamaan, disiplin sosial, penghormatan terhadap harmoni, serta tanggung jawab kolektif.
"Nilai-nilai luhur itu tidak diajarkan secara abstrak, melainkan hadir nyata dalam praktik hidup keseharian masyarakat Jepang. Ini yang membuat saya sangat menghormati mereka," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa gotong royong sebagai nilai utama Pancasila bukan sekadar konsep, melainkan prinsip yang menggerakkan dan memberi arah kehidupan bersama bangsa Indonesia, dengan asas semua untuk semua.
Komitmen terhadap nilai kerja sama tersebut, lanjut Puti, diwujudkannya melalui peran sebagai Ketua GKSB DPR RI dengan Parlemen Jepang, dengan pendekatan people-to-people diplomacy.
“Diplomasi ini berangkat dari perjumpaan manusia, bukan semata kepentingan negara,” ujarnya.
Selain itu, Puti juga mengapresiasi tradisi masyarakat Jepang yang hidup selaras dengan alam, nilai yang sejalan dengan gagasan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tentang pentingnya merawat bumi dan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Baca juga: Musyawarah Ibu Bangsa 2025: Lestari Moerdijat Tegaskan Feminisme Pancasila sebagai Kompas Keadilan
Dalam berbagai pertemuan dengan kolega di Jepang, termasuk saat bertemu Kaisar Jepang, Puti menyampaikan pentingnya transfer pengetahuan, khususnya di bidang riset, kebijakan publik, mitigasi bencana, dan pengelolaan sumber daya kelautan.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.