Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Tim SAR Berjuang Hadapi Medan Terjal dan Kabut Tebal
Tim SAR menembus kabut Bulusaraung evakuasi korban ATR 42-500, dua jenazah ditemukan, identifikasi menunggu DVI.
Editor:
Glery Lazuardi
Helm dan alat komunikasi melekat di tubuh para rescuer, sementara peta jalur pendakian menjadi panduan di balik kabut tebal yang sering menutup jarak pandang.
Gunung Bulusaraung, dengan ketinggian 1.353 mdpl, menjadi medan ekstrem: curam, vegetasi rapat, dan cuaca yang berubah cepat.
Kabut tebal dan hujan sering memaksa tim menghentikan pencarian, tetapi mereka tetap menunggu, siaga, dan bersiap setiap kali cuaca membuka celah.
Senin siang, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii meninjau langsung operasi SAR, didampingi Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, serta Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Bangun Nawoko.
Rombongan kemudian membahas langkah lanjutan, termasuk rencana modifikasi cuaca oleh BMKG dengan menyemai kapur di sekitar lokasi untuk menipiskan kabut dan mengurangi potensi hujan.
“Kondisi cuaca masih kurang bersahabat. Dengan modifikasi cuaca, kami berharap operasi SAR bisa lebih maksimal,” ujar Menhub Dudy.
Gubernur Andi Sudirman menambahkan, “Insya Allah, ini bisa mempermudah akses tim SAR.”
Evakuasi dilakukan dengan hati-hati. Tim SAR gabungan, dipimpin Arman (38) warga Desa Tompobulu yang pertama menemukan lokasi mayat, menarik kantong jenazah dari tebing menggunakan tali.
Operasi ini melibatkan personel TNI, Brimob, Polhut, relawan, dan masyarakat setempat. Sebelum diberangkatkan, tim mengikuti apel dan pengarahan dari Asrem Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, disertai doa keselamatan.
BPBD Sulsel juga memastikan kesiapsiagaan penuh 24 jam, menurunkan puluhan personel untuk mendukung logistik dan pencarian di medan ekstrem. Koordinasi lintas daerah dilakukan dengan BPBD kabupaten dan kota, Damkar, dan organisasi relawan untuk memperkuat efektivitas operasi.
Ribuan relawan dari lebih 60 organisasi ikut terlibat, termasuk BASARNAS, Kodam XIV, SAR Universitas Hasanuddin, Mapala, PMI, Banser, Dompet Dhuafa, hingga komunitas lokal. Kepala Basarnas RI menyebut, total personel yang terlibat mencapai sekitar 1.200 orang.
Baca juga: Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Kecelakaan di Maros Dikenal Sosok Perhatian Terhadap Lingkungan
Sampel DNA Korban ATR 42-500 Diambil Setelah Jenazah Diserahkan, Identifikasi Terpusat di Makassar
Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) tidak dilakukan di lokasi kejadian. Sampel Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) atau asam deoksiribonukleat baru akan diambil setelah jenazah diserahkan dan diperiksa di tempat pemeriksaan resmi.
Kabid Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri, Kombes Wahyu Hidayati, menegaskan hal tersebut di kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jl Kumala, Makassar, Senin (19/1/2026) sore.
“Untuk jenazah, pengambilan sampel akan dilaksanakan di tempat pemeriksaan jenazah. Kami tidak pernah mengambil sampel di TKP, supaya semua terdata dengan baik, termasuk penomoran dan administrasinya,” ujarnya.
Hingga saat ini, tim DVI belum menerima jenazah korban sehingga pemeriksaan post mortem belum dapat dilakukan.