SBY Ingatkan Ancaman Perang Dunia III, TB Hasanuddin Dorong Diplomasi Perdamaian Indonesia
TB Hasanuddin menilai peringatan tersebut patut menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan parlemen.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan kekhawatiran akan terjadi Perang Dunia III.
- Menurut SBY, situasi saat ini sudah mirip dengan situasi dunia menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II
- TB Hasanuddin menilai peringatan tersebut patut menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan parlemen.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin merespons pernyataan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebut kemungkinan terjadinya Perang Dunia III.
TB Hasanuddin menilai peringatan tersebut patut menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan parlemen.
Ia menyampaikan bahwa secara realistis Indonesia memang tidak dapat mencegah perang dunia sendirian, terlebih konflik berskala global.
Namun demikian, Indonesia tetap memiliki ruang dan peran strategis untuk melakukan upaya signifikan, khususnya melalui jalur diplomasi dan perdamaian internasional.
“Indonesia memiliki posisi moral dan politik yang kuat sebagai negara nonblok dan pengusung perdamaian dunia. Peran ini harus terus dioptimalkan,” kata TB Hasanuddin, kepada wartawan Rabu (21/1/2026).
TB Hasanuddin mendorong Kementerian Luar Negeri untuk mengaktifkan secara maksimal seluruh jajaran diplomatik Indonesia di berbagai forum internasional.
Menurutnya, para diplomat Indonesia, khususnya yang bertugas di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perlu lebih aktif membangun dan mewarnai suasana kebatinan perdamaian, serta mendorong dialog dan deeskalasi konflik global.
Selain itu, TB Hasanuddin juga menekankan pentingnya peran perwakilan diplomatik Indonesia di berbagai negara untuk melakukan pendekatan serupa, menyesuaikan dengan konteks dan dinamika politik di negara tempat mereka bertugas.
Tidak hanya melalui jalur resmi negara, TB Hasanuddin menilai organisasi masyarakat sipil dan LSM perdamaian juga perlu dihidupkan kembali dan dilibatkan secara aktif.
Dia mencontohkan gerakan seperti Gong Perdamaian yang selama ini membawa pesan simbolik dan moral tentang pentingnya persatuan dan perdamaian dunia.
“Upaya perdamaian tidak cukup hanya melalui pemerintah. Partisipasi masyarakat sipil dan gerakan perdamaian juga harus diperkuat,” ucapnya.
Lebih lanjut, TB Hasanuddin menekankan bahwa diplomasi parlemen juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas global.
Ia menilai, parlemen Indonesia dapat menjalin komunikasi dan kerja sama dengan parlemen negara lain guna mendorong dialog, membangun kepercayaan, dan memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian dunia.
“Diplomasi antar parlemen adalah jalur penting yang sering luput diperhatikan, padahal potensinya besar untuk meredam ketegangan antarnegara,” ucapnya.
TB Hasanuddin berharap seluruh elemen bangsa, baik pemerintah, parlemen, diplomat, maupun masyarakat sipil, dapat bersinergi dalam memperkuat peran Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia, di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik global saat ini.