Independensi Bank BI dan Isu 'Tukar Guling' Thomas Djiwandono-Juda Agung
Publik tengah menyoroti soal independensi Bank Indonesia (BI) dan masuknya Wamenkeu Thomas Djiwandono dalam bursa calon deputi bank sentral.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Publik tengah menyoroti soal independensi Bank Indonesia (BI) dan masuknya Wamenkeu Thomas Djiwandono dalam bursa calon deputi bank sentral.
- Isu itu muncul bersamaan dengan dinamika internal BI yang ramai dibahas, termasuk spekulasi soal tukar guling pejabat BI dengan Kemenkeu.
- Adapun Deputi Gubernur BI memiliki peran yang sangat strategis dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan ekonomi makro.
TRIBUNNEWS.COM - Publik tengah menyoroti soal independensi Bank Indonesia (BI) dan masuknya Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono atau Tommy dalam bursa calon deputi bank sentral.
Isu itu muncul bersamaan dengan dinamika internal BI yang ramai dibahas, termasuk spekulasi soal tukar guling pejabat BI dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Relasi antara otoritas fiskal dan moneter kembali menjadi disorot, terutama saat stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar masih diuji oleh ketidakpastian global.
Adapun Deputi Gubernur BI memiliki peran yang sangat strategis dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan ekonomi makro, salah satunya menetapkan suku bunga acuan yang bertujuan mengendalikan inflasi.
Independensi Bank BI
Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan, proses pengisian jabatan Deputi Gubernur BI tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral.
Hal tersebut menyusul pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung pada 13 Januari 2026.
"Kami tegaskan bahwa proses pengisian jabatan Deputi gubernur tersebut tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI sebagai bank sentral sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang BI," kata Perry saat Konferensi Pers secara virtual, Rabu (21/1/2026).
Perry mengusulkan tiga nama calon Deputi Gubernur BI kepada Presiden RI Prabowo Subianto pada 14 Januari 2026 atau setelah Juda Agung mengundurkan diri pada 13 Januari 2025.
Selanjutnya, Presiden mengajukan ketiga nama tersebut kepada DPR RI untuk menjalani proses persetujuan.
"Kita tentu saja serahkan sepenuhnya kepada DPR untuk memberikan persetujuan terhadap salah satu dari tiga orang calon Deputi Gubernur tersebut," tegas dia.
Terakhir dia menegaskan pengambilan keputusan di Bank Indonesia dilakukan oleh Dewan Gubernur secara kolektif dan kolegial.
Baca juga: Profil Perry Warjiyo, Sosok yang Usulkan Nama Thomas Djiwandono Jadi Calon Deputi Gubernur BI
Setiap kebijakan dirumuskan melalui komite-komite yang ada dengan tata kelola yang kuat dan profesional.
"Proses pengambilan kebijakan di BI tetep kami dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat, tentu saja bersinergi dengan kebijakan pemerintah untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ungkap Perry.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat Presiden (Surpres) kepada DPR mengenai calon deputi Gubernur BI yang akan menggantikan Juda Agung.
Setelah menerima Surpres tersebut, nantinya DPR akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).
Uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terhadap kandidat Gubernur BI akan digelar pada Jumat (23/1/2026) dan Senin (26/1/2026).
Selain Thomas, dua kandidat lain sebagai Deputi Gubernur BI, yaitu Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI dan Solikin M Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Bagaimana pandangan Gerindra dan Menkeu soal Independensi Bank BI?
Nama Tommy menjadi perhatian karena merupakan keponakan dari Presiden Prabowo.
Selain itu, ia sebelumnya adalah anggota Partai Gerindra, partai yang didirikan pada 6 Februari 2008 dan dipimpin oleh Prabowo.
Meski begitu, Ketua Harian Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) Sufmi Dasco Ahmad menilai independensi BI tidak akan terpengaruh.
Pasalnya, pengusulan nama Thomas Djiwandono merupakan pilihan dari Gubernur BI Perry Warjiyo.
Ia juga membantah spekulasi adanya intervensi dari Presiden RI Prabowo Subianto di balik pengusulan nama Tommy, panggilan akrab Thomas Djiwandono.
Hal ini disampaikan Dasco kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu kemarin.
"Yang pertama, pengusulan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur BI adalah pilihan dari Gubernur BI sendiri," kata Dasco.
Sehingga, kalau dikatakan ada intervensi, misalnya dari Presiden, pengusulan itu kan dari Gubernur BI."
Dasco menekankan, keputusan di BI bersifat kolektif-kolegial, di mana setiap pengambilan keputusan harus disetujui dan diputuskan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.
Sehingga, deputi akan mengambil keputusan penting dengan sepengetahuan unsur pimpinan lain di BI.
"Kemudian, masyarakat perlu tahu, bahwa pengambilan keputusan di BI itu adalah kolektif-kolegial. Jadi, bagaimana seorang deputi, misalnya, mengambil keputusan-keputusan penting tanpa disetujui oleh yang lain?"
Dasco juga menjelaskan bahwa Thomas Djiwandono sudah mengundurkan diri dari pengurus Partai Gerindra per 31 Desember 2025.
Dasco menjelaskan Tommy sudah tak masuk jajaran pengurus sejak Musyawarah Nasional (Munas) Partai Gerindra.
"Per 31 Desember 2025 kemarin yang bersangkutan sudah mengajukan pengunduran diri sebagai pengurus partai," kata Dasco di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Oleh karena itu, Wakil Ketua DPR RI ini memastikan keponakan Prabowo itu tak lagi masuk jajaran pengurus Partai Gerindra.
"Sehingga kalau ditanya sekarang, pertama sudah tidak di pengurus kemudian memang yang bersangkutan sudah mengajukan pengunduran diri per 31 Desember 2025," ujar Dasco.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, masuknya Thomas dalam bursa calon Deputi Gubernur BI tidak akan menggerus independensi bank sentral.
Menurut Purbaya, pertukaran jabatan Wamenkeu Thomas dan Deputi Gubenur BI Juda Agung adalah seimbang dan wajar terjadi.
"Makanya saya bingung Kalau Juda Agung masuk ke saya, jangan-jangan orang Pak Perry mau neken saya di dalam. Enggak, itu satu exchange, pertukaran yang saya pikir seimbang nggak ada yang aneh," tegas Purbaya di Gedung DPR RI, Senin (19/1/2026).
Purbaya menegaskan, independensi BI bisa dipersoalkan apabila dalam pengambilan keputusan terjadi intervensi langsung dari pemerintah.
"Kalau independensi nggak ada hubungannya Kecuali nanti pada waktu ambil keputusan ada intervensi langsung dari pemerintah. Selama ini kan nggak ada, jadi BI independen kita jalankan fiskal Mereka jalankan moneter," tutur Purbaya.
"Kita koordinasi di KSSK untuk memastikan kebijakannya walaupun sama-sama independen tapi memastikan kedua kebijakan bisa menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Seperti yang disarankan di Rapat KSSK barusan dengan DPR," imbuhnya menegaskan.
Purbaya menegakan bahwa apabila Thomas sudah resmi masuk ke Bank Indonesia maka statusnya tidak lagi sebagai pemerintah. Dia juga meyakini bahwa independensi BI akan tetap terjaga.
"Enggak, harusnya begitu masuk ke BI udah dia independen. Bukan elemen pemerintah. Kalau elemen dari pemerintah adalah saya akan ngirim orang setiap ada sidang Dewan Gubernur yang berhubungan dengan bunga boleh kan di undang-undangnya? Itu unsur pemerintah. Kalau ini bukan independen kelihatannya kalau jadi ya," sambungnya.
Isu Pergeseran
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pengetahuan ekonomi mantan Deputi Gubernur BI Juda Agung dinilai cukup di tengah kabar dia akan bertukar jabatan dengan Thomas Djiwandono yang akan meninggalkan kursi Wamenkeu.
"Saya enggak tahu (cocok jadi Wamenkeu), tergantung Presiden Prabowo, tapi kalau dari pengetahuan ekonomi, dia cukup," kata Purbaya usai menggelar pertemuan dengan Juda Agung di Gedung Juanda I Kementerian Keuangan, Selasa (20/1/2026).
Menurut Purbaya, pertemuan tersebut sebatas diskusi mengenai kondisi ekonomi nasional.
Saat ditanya apakah Juda Agung cocok menjabat sebagai Wamenkeu, Purbaya menegaskan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Kepala Negara.
Purbaya juga mengaku tidak mengetahui apakah Juda Agung merupakan kandidat tunggal atau masih ada nama lain yang dipertimbangkan.
"Saya enggak tahu. Jadi Pak Juda ketemu saya juga saya enggak tahu sebagai apa. Pokoknya dia di BI mau lihat ini-ini yaudah kita diskusi ekonomi seperti apa. Nanya keuangan seperti apa," ucapnya.
Ia menegaskan, hingga kini belum ada keputusan resmi terkait posisi Wakil Menteri Keuangan.
"Tapi saya nggak tau dia kandidat tunggal apa ganda. Kandidat kan belum resmi," imbuhnya.
Sebelumnya, Purbaya membenarkan akan ada pertukaran posisi Wamenkeu yang dipegang Thomas Djiwandono dan Deputi Gubernur BI yang dipegang Juda Agung.
"Kayaknya switch ya kelihatannya. Kalau bocornya seperti itu ya? Kayaknya begitu, switch kelihatannya begitu," kata usai rapat dengan Komisi XI DPR RI, Senin (19/1/2026).
Ia mengatakan, kunjungan Wamenkeu Thomas dalam beberapa kesempatan ke Bank Indonesia itu merupakan bagian dari proses pembelajaran sebelum masuk BI.
"Disuruh ngintip-ngintip, di BI ada apa sih? Kan udah ngintip dua kali cukup," ungkap Purbaya.
Namun, dirinya enggan menyebutkan kapan pergantian posisi kedua pejabat tersebut akan dilakukan.
(Tribunnews.com/Deni/Nitis)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.