Kementerian Agama: Masjid Pusat Pembinaan Umat dan Kesadaran Ekologis
Menurut Abu Rokhmad, ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus menjadi perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
"Masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat dan kesadaran ekologis," katanya.
Gerakan ekoteologi juga digerakkan melalui Majelis Taklim dengan program penanaman satu juta pohon matoa, sebagai upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan di tingkat komunitas.
Pada aspek akademik dan penguatan narasi keagamaan, Kemenag menggelar International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth yang melibatkan para pakar dan akademisi. Abu Rokhmad menilai konferensi tersebut penting untuk memperkuat landasan ilmiah dan literasi ekoteologi.
“Pesan lingkungan harus menjadi bagian dari ajaran agama yang mudah dipahami dan diamalkan," ucapnya.
Rakernas 2026 menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat kolaborasi, efisiensi, dan nilai-nilai keislaman dalam menyiapkan umat masa depan.