Ragu Prabowo Berani Reshuffle Besar-besaran, Pakar: Tak Punya Mental Politik Hadapi Teman Koalisi
Pakar Politik Ray Rangkuti menilai masalah utama dalam reshuffle kabinet ini sebenarnya ada pada ketegasan Presiden Prabowo itu sendiri.
Penulis:
Faryyanida Putwiliani
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Pakar Politik Ray Rangkuti menilai masalah utama dalam reshuffle kabinet ini sebenarnya ada pada ketegasan Presiden Prabowo itu sendiri.
- Pasalnya Ray merasa tak yakin Prabowo akan melakukan reshuffle besar-besaran.
- Ray juga menilai Prabowo tak punya mental politik yang besar untuk berhadapan dengan teman-temannya di Koalisi Indonesia Maju.
TRIBUNNEWS.COM - Pakar Politik Ray Rangkuti ikut menanggapi soal ramainya isu reshuffle kabinet yang belakangan ini jadi sorotan publik.
Walaupun sebenarnya posisi menteri di Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto ini hanya kosong di satu posisi, yakni posisi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono yang mengundurkan diri karena menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih.
Ray Rangkuti menilai masalah utama dalam reshuffle kabinet ini sebenarnya ada pada ketegasan Presiden Prabowo itu sendiri.
Pasalnya Ray merasa tak yakin Prabowo akan melakukan reshuffle besar-besaran.
Ray juga menilai Prabowo tak punya mental politik yang besar untuk berhadapan dengan teman-temannya di Koalisi Indonesia Maju.
"Masalah utama dari apa namanya dari reshuffle ini menurut saya adalah soal ketegasan Pak Prabowo sendiri gitu, dan oleh karena itulah saya tidak terlalu yakin bahwa Pak Prabowo akan melakukan reshuffle besar-besaran gitu ya."
"Karena saya kira Pak Prabowo enggak punya mental politik untuk berhadapan dengan teman-teman koalisinya gitu. Jadi mungkin Bahlil sedikit ngambek, mungkin Pak AHY dia akan apa namanya kembali lagi gitu ke format semula gitu."
"Itulah yang kelihatan, yang membuat hampir saya kira, dua tiga kali reshuffle yang pernah dilakukan itu meleset dari apa yang selama ini berkembang di tengah masyarakat dalam penelitian waktu."
"Kita menganggapnya hari ini ternyata enggak jadi, baru besok lusa, macam-macam dan sebagainya. Karena ketidaksiapan mentalitas politik Pak Prabowo menghadapi teman-teman koalisinya gitu," kata Ray dalam Program 'Sapa Indonesia Pagi' Kompas TV, Jumat (30/1/2026).
Lebih lanjut Ray menilai Prabowo selama ini terlalu dihantui dengan filosofi politiknya yang menganut politik harmoni.
Padahal dalam reshuffle kabinet ini tak bisa dihindari jika nantinya akan terjadi pengurangan jatah parpol, atau orang-orang yang berpengaruh dalam internal parpol.
Baca juga: Reshuffle Kabinet, Pakar Sebut Menteri yang Berpotensi Diganti: Sugiono, Pratikno, Tito Karnavian
Ray melihat Prabowo tak punya kesiapan untuk berhadapan dengan ketidaksukaan parpol dari koalisi pengusungnya.
"Pak Prabowo menurut saya terlalu dihantui oleh apa namanya? oleh filosofinya sendiri dalam politik ya apa itu politik harmoni itu. Nah, bagaimanapun tentu ya kalau ada reshuffle apalagi mengurangi jatah partai politik, atau meminggirkan orang-orang yang dianggap sangat berpengaruh di dalam internal partai politik, akan menimbulkan gejolak secara internal gitu."
"Nah, saya tidak melihat Pak Prabowo punya kesiapan mentalitas politik untuk berhadapan dengan, katakanlah kengambekan gitu ya, atau berhadapan dengan kejengkelan gitu, atau berhadapan dengan katakanlah misalnya sikap memperlihatkan ketidaksukaan gitu dari teman-teman koalisinya gitu."
"Itu yang mengakibatkan saya betapa pun mungkin keinginan Pak Prabowo mau melakukan reshuffle ujung-ujungnya kelihatan terlambat lagi. Terlambat lagi. Kemarin kita menganggap akan terjadi reshuffle gitu ternyata enggak jadi. Sudah 2-3 hari setelah kemarin itu, enggak apa, angin reshufflenya juga makin kelihatan, makin tidak kelihatan," jelas Ray.
Baca juga: Golkar soal Isu Reshuffle: Bisa Jadi Reshuffle soal Kinerja, Tapi Bisa Juga Tantangan ke Depan
Baca tanpa iklan