Profil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Dianggap Main Api karena Pernyataannya, Terbaru soal Bank Himbara
Pengamat menilai Menhan Sjafrie kerap mengeluarkan pernyataan di luar tugas pokok dan fungsinya.
Penulis:
Pravitri Retno Widyastuti
Editor:
Whiesa Daniswara
Sebelum menjadi Menhan, Sjafrie adalah Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) yang menjabat pada 2010-2014.
Sjafrie merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1974.
Ia adalah teman satu angkatan Prabowo dan Ryamizard Ryacudu.
Lulus dari AKABRI, Sjafrie bergabung di satuan Infanteri Komando Pasukan Khusus sebagai Komandan Peleton Grup 1 Komando Pasukan pada 1975.
Setahun setelahnya, ia ditugaskan menjadi Komandan Nanggala X di Timor-Timur.
Berikut riwayat jabatan Sjafrie:
- Danton Grup 1 Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha)
- Dan Nanggala X Timor-Timur (1976)
- Dan Nanggala XXI Aceh (1987)
- Danyon 11
- Dantim Maleo Irian Jaya (1987)
- Satgas Kopassus Timor Timur (1990)
- Dangrup A Paspampres
- Danrem 061/Surya Kencana (1995)
- Kasgartap-1 Ibu kota (1996)
- Kasdam Jaya (1996)
- Pangdam Jaya (1997)
- Aster Kasum TNI (1998)
- Sahli Polhukam Panglima TNI (1998)
- Koorsahli Panglima TNI (2001)
- Kapuspen TNI (2002)
- Sekjen Kemhan (2005)
Baca juga: Isunya Bakal Dicopot Prabowo dan Diganti Anak Muda, Siapa Saja Jajaran Direksi Bank Himbara?
Selama berkarier sebagai prajurit TNI, Sjafrie dituding telah melakukan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Ia disebut-sebut terlibat dalam pembantaian Santa Cruz pada 1991, krisis Timor-Timur 1999, serta penculikan aktivis 1997/1998 dan kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.
Pernyataan Sjafrie
Sebelumnya, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Presiden Prabowo Subianto bakal mencopot seluruh jajaran direksi Bank Himpunan Milik Negara (Himbara).
Sjafrie mengatakan Prabowo akan mengganti jajaran direksi dengan anak muda yang dinilai lebih kompeten.
Langkah ini diambil sebab Bank Himbara selama ini dianggap lebih memprioritaskan penyaluran kredit kepada pengusaha besar, ketimbang pelaku usaha kecil.
Tak hanya itu, Sjafrie juga menyoroti rapuhnya birokrasi dan lemahnya sistem pengawasan Bank Himbara yang saat ini bersumber dari kursi pimpinan.
"Bank Himbara itu lebih menertibkan pengusaha besar untuk dikasih kredit daripada pengusaha kecil."
"Oleh karena itu, Presiden memutuskan untuk mengganti semua direksinya. Sudah ada tata kelola baru untuk menertibkan BUMN," jelas Sjafrie, Sabtu (31/1/2026).
Lebih lanjut, Sjafrie menuturkan saat ini pemerintah menerapkan metode talent scouting untuk mengisi jajaran direksi Bank Himbara nantinya.
Baca tanpa iklan