Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Akademisi Universitas Brawijaya Ingatkan Indonesia Belum Siap Terapkan e-Voting dalam Pemilu

George menolak penggunaan sistem e-voting dalam bentuk apapun, termasuk Direct Recording Electronic (DRE) maupun sistem hybrid.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Chaerul Umam
zoom-in Akademisi Universitas Brawijaya Ingatkan Indonesia Belum Siap Terapkan e-Voting dalam Pemilu
Tribunnews.com/Chaerul Umam
USUL PEMBUBARAN BAWASLU - Akademisi Universitas Indonesia (UI), Chusnul Mariyah, mengusulkan agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dibubarkan. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi II DPR RI, terkait desain dan permasalahan pemilu dalam RUU Pemilu, pada Selasa (3/2/2026). 
Memuat video…

 

Ringkasan Berita:
  • Akademisi Universitas Brawijaya (UB) George Towar Ikbal Tawakkal, mengingatkan Indonesia belum siap untuk menerapkan e-voting dalam pemilu
  • George menolak penggunaan sistem e-voting dalam bentuk apapun, termasuk Direct Recording Electronic (DRE) maupun sistem hybrid
  • Menurutnya peretasan terhadap e-voting dalam pemilu bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Akademisi Universitas Brawijaya (UB) George Towar Ikbal Tawakkal, mengingatkan Indonesia belum siap untuk menerapkan e-voting dalam pemilu.

Sebab menurutnya penerapan sistem e-voting rawan untuk diretas.

Baca juga: Perludem Nilai Penghapusan Ambang Batas Parlemen Perkuat Proporsionalitas Pemilu

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi II DPR RI, terkait desain dan permasalahan pemilu dalam RUU Pemilu, pada Selasa (3/2/2026).

"Hindari penerapan e-voting. Ini saya cenderung tidak sepakat dengan penggunaan e-voting, apapun itu baik yang DRE, e-voting ataupun hybrid, ada beberapa model sebenarnya e-voting," kata George di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

"Saya masih melihat kita belum siap, karena rawan untuk di hack, keamanan siber itu ngeri ya, kejahatan siber itu. Entah dari lawan politik atau dari lawan iseng, kan enggak tahu," imbuhnya.

Rekomendasi Untuk Anda

George menolak penggunaan sistem e-voting dalam bentuk apapun, termasuk Direct Recording Electronic (DRE) maupun sistem hybrid.

Menurutnya peretasan terhadap e-voting dalam pemilu bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu.

Baca juga: Jokowi Turun Gunung, Pengamat Nilai Tak Jamin Keberhasilan PSI di Pemilu 2029

"Isu kepercayaan publik ini penelitian Riera dan Brown di Amerika Latin itu memang yang parah orang nggak percaya dengan hasil e-voting, kemudian kesiaoan instrumen digital juga tidak siap," ucapnya.

Lebih lanjut, George mencontohkan pengalaman sejumlah negara maju yang sempat menerapkan e-voting, namun pada akhirnya berhenti.

"Negara-negara maju sudah ndak mau memakai e-voting, pernah tetapi nggak jadi, berhenti mereka. Karena isu, masalah isu kepercayaannya diragukan terus," pungkasnya.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas