Prabowo Temui 64 Tokoh Islam, MUI Harap Komunikasi Soal Board of Peace Terbuka
Sudarnoto menilai komunikasi antara pemerintah dan tokoh umat sangat penting, terutama terkait isu strategis seperti Board of Peace (BoP).
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan 64 tokoh Islam di Istana Kepresidenan.
- Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai pertemuan ini membuka ruang komunikasi penting antara pemerintah dan masyarakat.
- Sudarnoto menekankan bahwa komunikasi dengan tokoh umat sangat diperlukan, terutama terkait isu strategis seperti Board of Peace (BoP).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan 64 tokoh Islam di Istana Kepresidenan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai pertemuan ini membuka komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Sudarnoto menilai komunikasi antara pemerintah dan tokoh umat sangat penting, terutama terkait isu strategis seperti Board of Peace (BoP) dan keterlibatan Indonesia di dalamnya.
Ia mengingatkan minimnya komunikasi dalam isu-isu krusial berpotensi menimbulkan persoalan serius di dalam negeri.
"Saya senang dan bersyukur presiden mengundang tokoh-tokoh Islam. Ini membuka ruang komunikasi yang baik. Ketidakhadiran komunikasi, apalagi menyangkut isu sepenting Board of Peace, bisa memunculkan keterbelahan antara pemerintah dan masyarakat," kata Sudarnoto dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Dirinya berharap pertemuan tersebut menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi kepentingan nasional Indonesia, perjuangan Palestina, serta perdamaian dan keadilan global.
Sudarnoto mendorong para tokoh umat Islam untuk memanfaatkan momentum pertemuan dengan menyampaikan pandangan secara jujur dan kritis, khususnya terkait Board of Peace dan posisi Indonesia di dalamnya.
Menurutnya, hal ini penting agar komitmen Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina dan mendorong pertanggungjawaban Israel atas kejahatan kemanusiaan tetap ditempuh melalui jalur diplomasi dan politik.
"Perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai penghentian perang atau kontak senjata. Keadilan harus dibuktikan. Fakta menunjukkan, pasca penandatanganan Board of Peace, pembunuhan oleh Israel masih terus terjadi. Ini menunjukkan kegagalan mewujudkan keadilan," katanya.
Sudarnoto juga menyoroti kondisi global peace and justice yang menurutnya justru mengalami kemunduran akibat kebijakan rezim Amerika Serikat.
Dirinya menegaskan, sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan melawan penjajahan, Indonesia harus tetap konsisten membela Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan, termasuk yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat.
"Ketidakadilan harus dilawan dengan cara-cara yang beradab, salah satunya melalui diplomasi yang bermartabat. Dengan nilai-nilai luhur Pancasila, Indonesia memiliki peluang besar untuk menunjukkan kepemimpinan diplomatik tersebut, sebagaimana telah ditunjukkan sepanjang sejarah bangsa," ujarnya.
Selain itu, dirinya berharap pertemuan Presiden dengan para tokoh Islam ini membuahkan hasil yang konstruktif, tidak hanya bagi kepentingan nasional Indonesia, tetapi juga bagi Gaza, Palestina, serta terwujudnya perdamaian dan keadilan global.
"Insya Allah kami akan selalu membersamai perjuangan untuk kemerdekaan Palestina dan penghapusan segala bentuk penjajahan," pungkas Sudarnoto.
Baca tanpa iklan