Ada Orang Indonesia Lamar Kerja ke Jeffrey Epstein, Intens Komunikasi Lewat Email Tahun 2013-2017
Ada seorang warga negara Indonesia (WNI) berinisial KY berkomunikasi dengan Epstein via email dari tahun 2013-2017. Dia meminta pekerjaan ke Epstein.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Seorang WNI berinisial KY tercatat bertukar pesan melalui email dengan perusahaan milik Jeffrey Epstein.
- Dalam pesan emailnya, dirinya ingin bekerja di perusahaan milik penjahat seksual asa Amerika Serikat (AS) tersebut.
- Adapun KY tercatat sebagai seorang profesional di bidang perhotelan.
- Komunikasi antara KY dan perusahaan Epstein terjalin dari 2013-2017 berdasarkan dokumen yang diterbitkan oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ).
TRIBUNNEWS.COM - Nama seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial KY tercantum dalam dokumen pertukaran email dari penjahat seksual Amerika Serikat (AS) Jeffrey Epstein.
Berdasarkan penelusuran di situs Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada Selasa (3/2/2026), KY saling bertukar pesan melalui email dengan berbagai pihak yang berafiliasi dengan Epstein.
Rupanya, KY diduga tengah melamar pekerjaan di perusahaan milik Epstein yakni Jee Vacation.
Total ada 142 dokumen tentang KY terkait pesan email yang dikirimkan ke pihak yang terafiliasi dengan perusahaan milik Epstein.
Adapun dokumen terkait KY pertama kali yakni soal curriculum vitae (CV) miliknya sebagai profesional di bidang perhotelan.
Baca juga: Skandal Jeffrey Epstein dan Mossad Israel Terbongkar, Harta Libya 80 Miliar Dolar Diincar
Dokumen itu tercatat dikirimkan KY ke email perusahan Epstein pada 3 April 2013 lalu.
Dalam CV tersebut, KY mengaku pernah bekerja di beberapa hotel ternama di Jakarta, Bali, hingga Maladewa.
Di hari yang sama, KY dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Epstein melalui aplikasi Skype pada pukul 08.00 waktu setempat.
Hanya saja tidak diketahui apakah pertemuan secara daring itu terealisasi atau tidak.
Di sisi lain, dirinya mengaku mengetahui sosok Epstein setelah diberitahu oleh mantan manajer hotel tempat dirinya sebelumnya bekerja.
Setelah itu, dia tertarik untuk bekerja di perusahaan milik Epstein di New York ataupun Florida.
"Sejujurnya, saya tertarik bekerja bersama Anda di salah satu properti milikmu di New York dan Florida," kata KY.
"Jika saya diberi kesempatan untuk bekerja dengan Anda, maka saya menjadi sosok yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya," sambungnya.
Kemudian, jauh sebelum komunikasi via email, KY mengaku sempat akan melakukan wawancara kerja di perusahaan milik Epstein.
Namun, KY mengatakan bahwa hal tersebut terpaksa dibatalkan buntut tragedi Bom Bali.
Jika merujuk dari pernyataan KY, maka dirinya diperkirakan melakukan wawancara pada Oktober 2002 atau Oktober 2005.
Pasalnya tragedi Bom Bali terjadi sebanyak dua kali yakni pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005.
"Kami datang untuk wawancara sebagai Residence Butler di Florida dan New York pada waktu itu. Hal itu telah diatur bersama Nicholas Simmonds dan Edwina saat itu."
"Namun, karena terjadi ledakan bom di Bali, semuanya dibatalkan," tulis KY dalam email tertanggal 4 April 2013.
KY tercatat begitu sering mengirim email ke Epstein terkait perkembangan lamaran kerjanya.
Dia tercatat terus meminta update tersebut hingga tahun 2015 dengan mengirimkan pesan email ke Epstein.
Berdasarkan catatan dokumen DOJ tersebut, KY terakhir kali tercatat mengirim email ke ke Epstein pada tahun 2017.
Baca juga: Daftar Elit Global yang Terseret di Epstein Files: Trump hingga Pengusaha Indonesia
Adapun isi dari pesan tersebut yaitu tautan terkait akun LinkedIn dari KY.
Menurut penelusuran Tribunnews.com dari komunikasi via email, KY tidak ada kaitannya dengan kejahatan seksual yang dilakukan Epstein.
Nama Hary Tanoe dan Pendiri Sinar Mas juga Masuk Epstein Files
Selain KY, ada dua tokoh nasional yang turut masuk dalam dokumen milik Epstein tersebut.
Mereka adalah konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja.
Namun, dalam keterangan yang tertulis dalam laporan tersebut, Harry dan Eka tidak terkait langsung dengan Epstein.
Hary hanya disebut terlibat dalam pengembangan hotel-hotel milik Presiden AS Donald Trump di Indonesia.
Diketahui Hary dan Trump memang bekerjasama dalam proyek bernama Trump Residences Indonesia yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat dan Bali.
Kerjasama tersebut sudah terjalin sejak tahun 2015 lalu.
Lalu, Hary juga disebut memperkenalkan Trump kepada 'orang CIA Indonesia' yang diduga adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Namun tidak disebutkan nama dari orang tersebut.
"Hary Tanoesodibjo telah terlibat dalam pengembangan hotel-hotel Trump dan (Hary) merupakan seorang miliarder. Hary memperkenalkannya kepada orang CIA Indonesia," demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Baca juga: Skandal Ganda Kerajaan Norwegia: Putri Mahkota Terseret Epstein Files, Putranya Terlibat Rudapaksa
Selain itu, Hary juga disebutkan membeli kediaman Trump di kawasan Beverly Hills, California, AS dengan 'harga yang dibesar-besarkan'.
Mantan Ketua Umum Partai Perindo itu juga mengatakan kepada Trump akan 'menghancurkan Amazon' terkait kontrak militer mereka.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut maksud dari pernyataan Hary kepada Trump tersebut.
Sementara, nama pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja tercantum dalam file Eipstein tersebut terkait penjualan mansion milik Trump di Beverly Hills pada tahun 2009 lalu.
Adapun properti Trump itu dibeli seharga 9,5 juta dolar AS. Sementara Eka disebut berkaitan dengan entitas dari Swiss di mana sebagai pembeli dari kediaman Trump tersebut.
Ada dugaan entitas yang dimaksud merupakan perusahaan cangkang milik Eka Widjaja.
"Pada musim panas 2009, dia (Trump) menjual rumah tersebut seharga 9,5 juta dolar AS - 800.000 dolar AS lebih rendah dari harga tahun sebelumnya - kepada entitas Swiss yang terkait dengan keluarga Eka Widjaja, seorang miliarder pengusaha keuangan Indonesia."
"Penjualan dilakukan secara tunai. Mantan pengacara Trump, Michael Cohen, mengajukan dokumen hukum untuk perusahaan cangkang yang terlibat dalam pembelian mansion tersebut dan ia menandatangani akta jual beli saat Trump menjual properti tersebut," demikian isi dari file tersebut.
Baca juga: Namanya Dicatut di Epstein Files, PM Malaysia Anwar Ibrahim Buka Suara
Di sisi lain, nama-nama tokoh Tanah Air seperti Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan eks Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani turut tertulis dalam file milik Eipstein.
Namun, hanya berkaitan dengan pemberitaan mereka di Indonesia alih-alih memiliki hubungan dengan Epstein.
Lalu, ada pula nama Presiden kedua RI Soeharto yang tercantum dalam file tersebut.
Senada, sosok Soeharto tidak berkaitan langsung dengan Epstein.
Namanya tercantum karena ada usulan buku terkait Soeharto dari seseorang bernama Gregory Brown kepada Epstein.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poewoto)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.