Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tanggal 5 Februari 2026 Memperingati Hari Apa? Ada HUT ke-79 HMI

Tanggal 5 Februari 2026 memiliki arti penting karena pada hari ini terdapat sejumlah peringatan yang berkaitan dengan sejarah, perjuangan, dan budaya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Tanggal 5 Februari 2026 Memperingati Hari Apa? Ada HUT ke-79 HMI
Bimas Islam Kemenag RI/simbi.kemenag.go.id
PERINGATAN 5 FEBRUARI - Bulan Februari 2026 dalam Kalender Islam Kemenag. Tanggal 5 Februari 2026 memiliki arti penting karena pada hari ini terdapat sejumlah peringatan yang berkaitan dengan sejarah, perjuangan, dan budaya. 

Pada tahun 2026 ini, HMI genap berusia 79 tahun. 

Pada HUT ke-79 HMI mengusung tema 'Khidmat HMI untuk Indonesia'.

Momentum ini diharapkan dapat memperkuat komitmen kader HMI untuk terus hadir sebagai agen perubahan yang berintegritas, berilmu, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

2. Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Selain peringatan HUT HMI, tanggal 5 Februari juga berkaitan dengan salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, yakni Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi (Zeven Provincien).

Pemberontakan ini bermula dari kebijakan pemotongan gaji yang dinilai tidak adil terhadap para pekerja dan pelaut pribumi oleh pemerintah Hindia Belanda, dikutip dari https://karangtengah.bantulkab.go.id/.

Ketidakpuasan tersebut memicu aksi mogok kerja yang pertama kali terjadi pada 27 Januari 1933. 

Informasi mengenai pemogokan ini menyebar luas, termasuk ke kapal angkatan laut Belanda HNLMS De Zeven Provinciën yang saat itu berlabuh di Sabang, Aceh.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketegangan semakin meningkat ketika pada 30 Januari 1933, aksi serupa kembali terjadi di Surabaya. 

Para pelaut Indonesia di Kapal Tujuh Provinsi kemudian mengadakan rapat internal, meskipun diwarnai tekanan dan ancaman dari pihak atasan kolonial.

Pemberontakan yang akhirnya pecah di perairan lepas pantai Sumatra tersebut menjadi perhatian dunia internasional. 

Pemerintah kolonial Belanda bahkan mengerahkan serangan udara dengan bom untuk menumpas perlawanan itu. 

Meski demikian, gaung peristiwa ini justru semakin besar. 

Media asing ramai memberitakannya, dan di Belanda sendiri, isu ini memicu perdebatan publik. 

Perhimpunan Indonesia di Belanda pun menyatakan dukungan melalui manifesto resmi.

Pada 5 Februari 1933, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa yaitu Belanda, Inggris, dan Melayu yang menyatakan bahwa Kapal Tujuh Provinsi telah dikuasai dan sedang bergerak menuju Surabaya. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas