Optimisme Ketua Dewan Pers di Tengah Disrupsi Digital dan AI: Publik Tetap Mencari Media Terpercaya
Menurut Komaruddin, disrupsi digital secara historis disrupsi justru merupakan bagian dari mata rantai peradaban mendorong kemajuan
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan pers arus utama tetap menjadi sumber informasi tepercaya di tengah disrupsi digital dan AI.
- Menurutnya, publik akan kembali mencari media kredibel saat jenuh dengan konten sensasional media sosial.
- HPN 2026 diharapkan memperkuat konsolidasi dan inovasi pers demi kepentingan publik.
Â
TRIBUNNEWS.COMÂ - Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan, di tengah derasnya disrupsi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI, pers arus utama tetap memegang peran strategis sebagai sumber informasi tepercaya bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Komaruddin dalam sambutan pada Konvensi Nasional Media Massa, rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026, yang mengusung tema “Pers, AI, dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik”, di Banten, Minggu (8/2/2026).
Menurut Komaruddin, disrupsi digital kerap dipersepsikan sebagai ancaman, tetapi secara historis disrupsi justru merupakan bagian dari mata rantai peradaban yang mendorong kemajuan manusia.
Ia menilai tantangan utama bukan pada disrupsinya, melainkan pada cara masyarakat dan insan pers merespons perubahan tersebut.
“Disrupsi itu konstanta sejarah. Dalam setiap disrupsi selalu ada kelompok yang mengeluh dan merasa kalah, ada yang menunggu sambil bertahan, dan ada yang kreatif serta inovatif membuka peluang baru,” kata Komaruddin, dalam siaran langsung YouTube Dewan Pers.
Ia menekankan bahwa pers nasional saat ini berada pada fase krusial transformasi digital, termasuk dalam menyikapi kehadiran AI yang mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi informasi.
Namun, di tengah banjir informasi, misinformasi, dan konten sensasional di media sosial, masyarakat justru tetap membutuhkan “air bersih” berupa informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
Komaruddin mengibaratkan situasi ekosistem informasi saat ini seperti banjir besar. Banyak lumpur dan keruh, tetapi pada saat yang sama masyarakat akan semakin mencari sumber air bersih.
Dalam konteks itu, media massa arus utama berfungsi sebagai “lembaga penyulingan” yang menyaring fakta, memverifikasi data, dan menyajikan informasi yang bertanggung jawab.
“Ketika masyarakat merasa lelah, bingung, dan toxic oleh arus informasi yang tidak terkendali, yang mereka cari pada akhirnya adalah media mainstream,” ujarnya.
Ia juga mengutip hasil riset yang menunjukkan bahwa meski masyarakat gemar mengonsumsi konten media sosial yang sensasional, media arus utama tetap menjadi rujukan utama ketika publik membutuhkan kepastian dan kepercayaan.
Baca juga: Banten jadi Tuan Rumah Hari Pers Nasional 2026, 1.000 Wartawan Anggota PWI Mulai Berdatangan
Lebih lanjut, Komaruddin berharap Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026 menjadi momentum konsolidasi dan revitalisasi industri pers dalam menghadapi tantangan transformasi digital dan AI.Â
Ia menilai kolaborasi, inovasi, dan optimisme menjadi kunci agar pers tidak tertinggal dalam perubahan teknologi global.
Sebagai Ketua Dewan Pers, Komaruddin menyatakan optimisme terhadap masa depan pers Indonesia, seraya mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap penguatan ekosistem media nasional. Ia menegaskan bahwa disrupsi digital dan AI merupakan fenomena global, bukan hanya dialami Indonesia.