Respons Kemenko PMK soal Fenomena Anak Muda Indonesia yang Takut Menikah
Kemenko PMK bekerja sama dengan Kementerian Agama, antara lain melalui bimbingan teknis bagi penghulu dan penyuluh memberikan edukasi pernikahan
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Kemenko PMK menyoroti fenomena anak muda yang takut menikah karena dapat menurunkan angka kelahiran.
- Pemerintah melakukan edukasi tentang pernikahan, kesehatan reproduksi, dan program GenRe untuk memberi pemahaman yang realistis kepada remaja.
- Berbagai gerakan seperti Astamantra dan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga juga didorong untuk membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Generasi muda Indonesia mulai diliputi ketakutan untuk menikah.
Kondisi ini menjadi perhatian Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum.
Ia mengungkapkan, ketakutan ini bisa membuat angka kelahiran di tanah air menurun.
"Upaya pemerintah saat ini adalah melalui edukasi kepada remaja agar tidak takut menikah," kata Woro saat ditemui di kantor Kemendukbangga, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026).
Kemenko PMK bekerja sama dengan Kementerian Agama, antara lain melalui bimbingan teknis bagi penghulu dan penyuluh memberikan edukasi kepada remaja usia sekolah mengenai kehidupan pernikahan.
Edukasi ini memberikan gambaran realistis tentang tantangan dan tanggung jawab dalam berkeluarga serta perencanaan keluarga.
Selain itu, pendidikan kesehatan reproduksi juga menjadi hal yang sangat penting.
Pihaknya menyadari, isu kesehatan reproduksi masih dianggap tabu di sebagian keluarga.
Padahal, pemahaman sejak dini sangat diperlukan agar remaja mampu mengenal diri, menjaga kesehatan, dan merencanakan masa depannya dengan baik.
"Kami juga melibatkan remaja secara langsung melalui program Generasi Berencana (GenRe), di mana remaja menjadi subjek yang aktif menyampaikan pesan kepada sesamanya," urai dia.
Di era digital, Kemenko PMK mendorong anak-anak muda untuk memenuhi media sosial dengan konten positif, sebagai bagian dari literasi dan edukasi.
"Baru-baru ini juga diluncurkan Astamantra untuk membangun keluarga di era digital, antara lain dengan mengurangi screen time, memperbanyak green time, memperkuat pengasuhan, dan membangun kembali kedekatan antaranggota keluarga," ungkap dia.
Baca juga: Vincent Beri Saran untuk Pernikahan Boiyen yang Retak, Desta: Tinggalin Aja
Selain itu, pihaknya juga menginisiasi Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga, yang mendorong aktivitas keluarga tanpa gawai dalam satu jam setiap hari.
Seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan utama, yaitu membangun keluarga yang berkualitas.
"Prinsip yang kami dorong saat ini bukan semata soal jumlah anak, melainkan kualitas sumber daya manusia," kata dia.
Memiliki keturunan, dua atau tiga serta jumlah lainnya bukan persoalan utama, sepanjang keluarga tersebut mampu membesarkan anak-anak yang sehat, berpendidikan, dan berkualitas.
Baca tanpa iklan