Ketua BEM UGM Diteror Setelah Kritik Pemerintah, Istana Singgung Soal Etika dan Adab Ketimuran
Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.
Penulis:
Igman Ibrahim
Editor:
Adi Suhendi
Ringkasan Berita:
- Prasetyo Hadi mengatakan penyampaian kritik harus mengedepankan etika dan adab
- Mensesneg meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan
- Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Istana Kepresidenan merespons kabar adanya tindakan teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto setelah melontarkan kritik keras terhadap kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.
"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran gitu lho," ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat.
Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan.
Baca juga: Sosok Irjen Sony Sonjaya, Komentarnya Diunggah Ketua BEM UGM, Penyandang Bintang Jasa Pratama
"Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua kan. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM," lanjutnya.
Mengenai ancaman teror, intimidasi pesan singkat, hingga penguntitan yang dialami Ketua BEM UGM dan keluarganya, Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelakunya.
Namun, ia memastikan bahwa konstitusi tetap menjamin kebebasan berpendapat.
Baca juga: Mahfud MD Puji Sikap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Surati UNICEF: Sudah Suarakan Hal yang Benar
"Kalau teror kita enggak tahulah siapa yang meneror ya. Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan konstitusi kan menjamin kebebasan berpendapatnya ya. Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting," ujarnya.
Prasetyo menekankan pemilihan kata yang tepat sangat penting agar masukan yang diberikan mahasiswa bisa menjadi bahan pembelajaran yang konstruktif bagi pemerintah.
Terkait desakan agar negara memberikan atensi khusus terhadap keselamatan para aktivis yang diteror, Mensesneg menjanjikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.
"Ya nanti kita kita cek lah," ucapnya.
Teror Via WhatsApp Hingga Dikuntit
Pesan WhatsApp dari nomor asing masuk ke gawai milik Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto.
Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.
Pesan tersebut masuk terus-menerus. “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
Baca tanpa iklan