Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pesan Misa Rabu Abu: Puasa Katolik Latih Pengendalian Diri, Bukan jadi Sakti Mandraguna

Romo Yosef ingatkan puasa Katolik bukan sakti mandraguna, tapi latihan kendali diri. Ribuan umat padati Misa Rabu Abu di Pasar Minggu.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Pesan Misa Rabu Abu: Puasa Katolik Latih Pengendalian Diri, Bukan jadi Sakti Mandraguna
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda Prasetia
MISA RABU ABU – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katolik Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, untuk mengikuti Misa Rabu Abu yang jatuh pada Rabu (18/2/2026). Dalam homilinya, Romo Yosef menegaskan puasa Katolik bukan sekadar sakti mandraguna, melainkan latihan kendali diri. 

Ringkasan Berita:
  • Ribuan umat Katolik padati Gereja Pasar Minggu
  • Romo Yosef ingatkan puasa bukan sekadar sakti mandraguna
  • Dari pesta Imlek ke Rabu Abu, ajakan bersih hati

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katolik Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, untuk mengikuti Misa Rabu Abu pada Rabu (18/2/2026).

Perayaan ini menandai awal masa Prapaskah, periode pantang dan puasa selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah.

Misa Rabu Abu dipimpin oleh RD. Yosef Natalis Kurnianto.

Dalam homilinya, Romo Yosef menekankan bahwa puasa dalam iman Katolik bukan sekadar uji fisik atau upaya menjadi “sakti mandraguna”, melainkan latihan pengendalian diri. 

Ia mengajak umat menghidupi semangat ugahari di tengah kesibukan dunia kerja modern.

Pantauan Tribunnews menunjukkan seribuan umat sudah memadati gereja sejak pukul 17.00 WIB.

Rekomendasi Untuk Anda

Suasana misa berlangsung khidmat dan lancar, umat tampak fokus mengikuti jalannya perayaan.

Romo Yosef menyebut misa kali ini terasa istimewa karena jatuh tepat sehari setelah Tahun Baru Imlek 2577. Dengan jenaka, ia menyapa umat yang baru saja berpesta pora merayakan Imlek.

“Baru kemarin kita pesta sepuas-puasnya, dan teman-temannya sampai kolesterol naik. Hari ini, kita langsung diajak berpuasa dan mati raga,” ujar Romo Yosef.

Ia menarik benang merah antara tradisi Imlek dan Rabu Abu. Jika dalam tradisi Imlek orang sibuk membersihkan rumah, maka Rabu Abu adalah momen untuk “bersih-bersih hati”.

“Bersih-bersih hati itu membersihkan diri dari rasa benci dan iri untuk membangun persaudaraan sejati,” tegasnya.

Baca juga: Menteri Agama Nasaruddin Umar Jadi Imam Salat Tarawih Perdana di Masjid Istiqlal

Lebih lanjut, Romo Yosef menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar atau mencari kekuatan gaib, melainkan latihan pengendalian diri.

“Semangat ugahari ditunjukkan justru ketika seseorang semakin rajin bekerja meski sedang berpuasa, tidak terlihat lemah, lesu, dan berbeban berat,” tambahnya.

Menutup homilinya, Romo Yosef menyinggung tema pertobatan ekologis yang kerap didengungkan Gereja.

Menurutnya, kepedulian pada lingkungan tidak akan terwujud tanpa menyelesaikan masalah internal manusia, yaitu ego.

“Pertobatan ekologis harus dimulai dari pertobatan ego. Mulai dari budaya bersih dan sehat dari diri sendiri. Yang biasanya buang sampah sembarangan, kini berubah,” pesannya.

Usai homili, misa dilanjutkan dengan prosesi penerimaan abu di dahi umat sebagai simbol pertobatan dan kefanaan manusia. Umat diajak menjalani tiga pilar masa Prapaskah: Berdoa, Berpuasa, dan Bela Rasa (Berderma).

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas