Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Politikus PDIP Aria Bima Respons Fenomena 'Ratapan Solo' di Rumah Jokowi, Ingatkan Publik Hati-hati

Politikus PDIP Aria Bima menanggapi terkait fenomena media sosial terkait aksi "Ratapan Solo" hingga tahlilan di depan kediaman Jokowi.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Politikus PDIP Aria Bima Respons Fenomena 'Ratapan Solo' di Rumah Jokowi, Ingatkan Publik Hati-hati
Tribunnews.com/Igman Ibrahim
POLITIKUS PDIP - Politikus senior PDIP Aria Bima di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/2/2026). Ia merespons doal viral aksi Ratapan Solo di depan kediaman Jokowi. 

Ringkasan Berita:
  • Aria Bima menanggapi terkait fenomena media sosial terkait aksi "Ratapan Solo" di kediaman Jokowi
  • Ingatkan agar publik berhati-hati dalam mencermati informasi di media sosial
  • Ekspresi pengkultusan yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang yang merugikan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Politikus senior PDI Perjuangan (PDIP) Aria Bima menanggapi terkait fenomena media sosial terkait aksi "Ratapan Solo" hingga tahlilan di depan kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi

Ia menilai masyarakat saat ini, terutama generasi muda, sudah semakin cerdas dan tidak lagi mudah terjebak dalam model pengkultusan individu.

Aria Bima menyebut bahwa di era demokrasi modern, publik lebih melihat pada kompetensi, visi, dan misi seorang pemimpin ketimbang sekadar aksi-aksi simbolis yang ramai di media sosial.

"Rakyat juga semakin cerdas. Model pengkultusan saya kira sudah tidak terlalu mendapatkan respons, terutama Gen Z ya. Sekarang kan tingkat ID partai saja menurun, ID personal meningkat," ujar Aria Bima di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini juga mengingatkan agar publik berhati-hati dalam mencermati informasi di media sosial.

Baca juga: Awal Mula Rumah Jokowi Ditandai Tembok Ratapan Solo, Warga Gelar Tahlilan di Jalan

Menurutnya, ekspresi pengkultusan yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang yang merugikan tokoh yang bersangkutan.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menggunakan istilah Jawa 'menjlomprongke' atau mencelakakan untuk menggambarkan kemungkinan adanya motif tertentu di balik aksi-aksi tersebut.

Baca juga: Viral Rumah Jokowi Diberi Nama Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Ini Respons Ajudan

"Apakah itu mendukung Pak Jokowi atau menjerumuskan Pak Jokowi, kan kita juga enggak ngerti. Tiba-tiba ada orang yang memberikan kultus yang begitu besar, banyak menjlomprongke orang Jawa bilang, biar jadi hujatan publik," ucapnya.

Ditandai Tembok Ratapan Solo

Rumah pribadi Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah ditandai 'Tembok Ratapan Solo' di google maps.

Penamaan ini bermula dari unggahan di media sosial yang memperlihatkan pria memegang pagar rumah Jokowi berwarna coklat sambil tertunduk.

Video dinarasikan warga mendatangi rumah Jokowi agar kariernya lancar.

Penyebutan 'Tembok Ratapan' terinspirasi dari Tembok Ratapan di Yerusalem, tempat umat Yahudi berdoa dan meratap. 

Istilah tersebut digunakan secara satir untuk menggambarkan rumah Jokowi sering dikunjungi warga.

Setelah tak lagi menjabat, Jokowi sering mempersilahkan warga masuk ke rumahnya untuk bersalaman serta berfoto.

Warga dari sejumlah daerah di luar Solo rela mengantri untuk bisa bertemu langsung dengan Jokowi.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas