Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengamat Nilai Wajar Kenaikan Harga Pangan saat Ramadan, Pemerintah Diminta Awasi Kartel

Kenaikan harga pangan Ramadan dinilai masih wajar, stok aman, tapi pemerintah diminta tegas terhadap kartel dan pedagang nakal.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Reza Deni
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Pengamat Nilai Wajar Kenaikan Harga Pangan saat Ramadan, Pemerintah Diminta Awasi Kartel
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
HARGA PANGAN- Warga berbelanja kebutuhan Ramadan, harga pangan naik wajar namun sorotan tertuju pada potensi kartel. 

Ringkasan Berita:
  • Pengamat sebut kenaikan harga pangan Ramadan masih normal, tapi kartel bisa rusak pasar jika tak ditindak tegas pemerintah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu,Surya Vandiantara menilai, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada bulan Ramadan tahun ini masih tergolong normal dan dalam batas wajar.

Menurutnya, ada beberapa indikator kenaikan harga itu bisa dikatakan masih wajar, diantaranya pertama, kenaikan harga bukan karena kelangkaan barang. 

Kedua, kenaikan harga beberapa komoditas pangan tidak diikuti oleh kenaikan harga komoditas atau barang lainnya.

"Kemudian, kenaikan harga komoditas pangan masih diikuti oleh kenaikan tingkat konsumsi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa harga pasar hari ini masih dalam jangkauan daya beli masyarakat," kata Surya kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).

Sementara itu, stok pangan secara nasional hingga saat ini masih dalam kategori aman.

Sehingga, menurutnya, kenaikan harga ini bukan karena kurangnya produksi, melainkan karena kebiasaan konsumsi masyarakat yang meningkat setiap Ramadan dan Idulfitri. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Budaya atau kebiasaan mengkonsumsi komoditas pangan lebih banyak ketika Bulan Ramadan menjadi pemicu kenaikan tingkat permintaan di pasar. Kenaikan tingkat permintaan inilah yang akhirnya direspon dengan kenaikan harga oleh para penjual atau produsen," kata dia. 

Selain itu, ada pula potensi pedagang nakal atau kartel komoditas pangan yang dengan sengaja memanfaatkan momentum untuk menaikkan harga barang di luar batas kewajaran demi mendapatkan keuntungan berlebih.

"Kartel atau pedagang nakal inilah yang kemudian sejatinya dapat merusak harga pasar. Sehingga harga barang-barang di pasar, bukanlah cerminan dari hukum permintaan-penawaran yang ideal," sambungnya. 

Untuk itu, menurut Surya, operasi pasar yang digencarkan pemerintah saat ini sangat penting dan relevan agar harga komoditas pangan dapat lebih terjaga. 

Dia juga berharap pemerintah  memberikan hukuman tegas kepada kartel atau pedagang nakal yang mencoba memainkan harga komoditas pangan.

"Tindakan tegas tersebut bisa berupa pencabutan izin usaha, agar memberikan efek jera. Sehingga masyarakat pun akhirnya merasa lebih aman ketika berbelanja saat Ramadan," pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan memprediksi harga pangan pada awal Ramadan ini masih akan melonjak tajam jika tidak ada intervensi dari pemerintah.

Reynaldi menilai, lonjakan harga dipicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Selama ini tidak dilakukan atau tidak diintervensi oleh pemerintah, kami pikir ini akan terjadi lonjakan yang luar biasa,” kata Reynaldi kepada Tribunnews, dikutip Kamis (19/2/2026).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas