Viral Alumni LPDP Pamer Paspor Inggris, Komnas HAM Ingatkan Sensitivitas Bermedia Sosial
Viral alumni LPDP pamer paspor Inggris anak, tuai kritik. Komnas HAM ingatkan etika dan literasi digital.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Video DS pamer paspor Inggris anak viral
- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ingatkan literasi digital
TRIBUNNEWS.COM - Polemik mencuat usai unggahan seorang alumni LPDP berinisial DS viral di media sosial.
Sorotan publik tertuju pada video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat, 20 Februari 2026.
Dalam video tersebut, DS memperlihatkan paspor milik anak keduanya yang baru saja memperoleh kewarganegaraan Inggris.
Namun, persoalan tidak terletak pada status kewarganegaraan sang anak, melainkan pada takarir atau keterangan yang dituliskan dalam unggahan tersebut.
Sejumlah warganet menilai diksi yang digunakan DS terkesan merendahkan akses paspor Indonesia dan dianggap tidak menunjukkan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.
Reaksi publik pun berkembang luas, mengingat DS merupakan alumni penerima beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Baca juga: Zanzabella Puji Aksi Tasya Kamila yang Jelaskan Peran dan Dedikasinya sebagai Alumni LPDP
Komnas HAM: Literasi Digital Berperspektif HAM Itu Penting
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Anis Hidayah, menekankan pentingnya literasi digital dalam bermedia sosial, khususnya yang berperspektif hak asasi manusia (HAM).
“Saya kira memang literasi digital soal bermedia sosial yang berperspektif HAM itu kan penting. Jadi, biar kita itu lebih sensitif dalam menyampaikan pernyataan-pernyataan yang itu bisa menyinggung entah harga diri orang lain, harga diri bangsa dan negara,” ujarnya.
Anis menegaskan bahwa memilih kewarganegaraan merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Namun demikian, konteks dan cara penyampaian tetap perlu diperhatikan, terlebih DS merupakan penerima beasiswa negara.
“Tentu diksi-diksi yang itu bisa berpotensi memunculkan sensitivitas publik, kemudian memunculkan pertanyaan terkait dengan ini ada potensi merendahkan kewarganegaraan kita, saya kira mestinya itu bisa dihindari,” lanjutnya.
Menurutnya, unggahan di ruang digital memiliki dampak sosial yang luas dan bisa memengaruhi suasana kebangsaan apabila tidak disampaikan dengan bijak.
“Karena itu bisa menggangu kondusivitas kita dalam kehidupan sosial, terutama di dunia media sosial,” kata Anis.
Baca juga: Soroti Kontroversi Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas, Sabrina Chairunnisa: Gak Semua Harus Diposting
Sorotan terhadap Tanggung Jawab Moral Penerima Beasiswa Negara
Polemik ini turut memunculkan diskusi publik mengenai tanggung jawab moral alumni penerima beasiswa negara. Sebagai penerima dana pendidikan dari anggaran publik, sebagian masyarakat menilai ada ekspektasi etis agar tetap menjaga sensitivitas terhadap simbol dan identitas kebangsaan.
Hingga kini, perdebatan di media sosial masih berlangsung. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital tetap perlu dibarengi kehati-hatian, empati, serta kesadaran atas dampak sosial yang ditimbulkan.
Baca tanpa iklan