FAO: Akses Protein Hewani Masih Rendah, Kurban Jadi Momentum Berbagi
Selain sebagai bentuk ketaatan, qurban menjadi cara sederhana untuk memperluas akses pangan dan menumbuhkan kebersamaan.
Penulis:
Wahyu Aji
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Data FAO 2021–2023 menunjukkan banyak keluarga di dunia, khususnya di kawasan berpendapatan rendah, masih menghadapi keterbatasan akses pangan bergizi dengan konsumsi daging per kapita hanya satu digit kilogram per tahun.
- Ibadah kurban menjadi momentum berbagi yang bermakna, membuka akses protein hewani bagi masyarakat rentan sekaligus memperkuat kebersamaan sosial.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada periode 2021 hingga 2023 menunjukkan bahwa banyak keluarga di berbagai wilayah dunia masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pangan bergizi.
M. Rijalul Afif, Leader Squad Qurban Human Initiative menjelaskan, di sejumlah kawasan berpendapatan rendah, konsumsi daging per kapita berada di kisaran satu digit kilogram per tahun.
"Kondisi ini menegaskan bahwa protein hewani belum menjadi bagian rutin konsumsi harian, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil dan rentan," kata Afif kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, ibadah qurban membuka ruang berbagi yang bermakna.
Selain sebagai bentuk ketaatan, qurban menjadi cara sederhana untuk memperluas akses pangan dan menumbuhkan kebersamaan.
"Atas dasar pemahaman ini, Human Initiative mengelola program Early Bird Qurban agar masyarakat dapat menyiapkan ibadah qurban secara lebih tenang dan terencana," ujarnya.
Dia menjelaskan, program ini memberi kesempatan bagi calon pemberi hewan qurban untuk mengamankan qurban lebih awal sekaligus mendukung distribusi yang tertata.
Afif menjelaskan, saat ini, Human Initiative membuka Qurban Early Bird dengan skema 1/7 sapi dari harga normal Rp 1.900.000 menjadi Rp 1.447.000,- yang memenuhi ketentuan syariat dan kesehatan.
Skema ini memberi pilihan berqurban yang lebih terjangkau tanpa mengurangi nilai ibadah.
Qurban yang dititipkan disalurkan ke wilayah Indonesia yang sulit dijangkau, termasuk daerah pelosok dan kawasan Indonesia Timur.
"Selain itu, distribusi juga menjangkau masyarakat di negara-negara Afrika serta wilayah lain yang menghadapi konflik, bencana, dan krisis kemanusiaan. Penyaluran yang terarah membantu memastikan manfaat qurban dapat dirasakan lebih merata oleh mereka yang membutuhkan," ujarnya.