Rocky Gerung Minta Debat MenHAM Pigai dan Guru Besar UGM Dibatalkan: Isu HAM Bukan Konsumsi Talkshow
Rocky Gerung sebut debat Pigai vs Uceng soal HAM absurd dan sarat sensasi, nilai sebaiknya dibatalkan.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Debat Pigai–Uceng soal HAM menuai sorotan.
- Rocky Gerung minta dibatalkan karena dinilai lebih berpotensi memicu sensasi dan polarisasi ketimbang substansi ilmiah.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat politik Rocky Gerung menilai rencana debat ilmiah terbuka antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Guru Besar Hukum Tata Negara UGM Zainal Arifin Mochtar sebagai langkah yang tidak tepat.
Rocky bahkan menyebut rencana adu argumen tersebut sebagai peristiwa yang absurd.
“Ini debat yang paling absurd. Kalau Uceng debat sama Menteri Pertahanan, itu masuk akal. Kalau Pigai debat sama Menteri Dalam Negeri, itu masuk akal. Ini dua orang yang betul-betul datang dari bus kota yang sama, bus HAM yang sama. Itu mau debat,” kata Rocky dalam kanal YouTube pribadinya, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, perdebatan terbuka tersebut berisiko lebih menonjolkan sensasi ketimbang substansi. Ia pun menyarankan agar rencana debat tersebut dibatalkan.
“Saya ingin ini dihindari, dihalangi saja, dibatalkan. Sensasinya akan lebih tinggi dari sekadar substansi,” ujarnya.
Rocky menilai baik Pigai maupun Zainal sama-sama memahami isu hak asasi manusia secara mendalam.
Ia menyebut Zainal menguasai aspek substansi hingga filosofi HAM, sementara Pigai terlibat langsung dalam perumusan regulasi yang berkaitan dengan penghormatan hak asasi.
“Profesor Uceng pasti mengerti substansi bahkan filosofi dari hak asasi manusia. Tapi Pigai terlibat dalam pembuatan regulasi untuk merawat penghormatan kepada hak asasi manusia,” ucapnya.
Ia khawatir format debat terbuka, terutama di televisi, justru memunculkan persepsi seolah-olah hak asasi manusia ditentukan oleh siapa yang menang dalam adu argumen.
“Seolah-olah kalau Pigai yang menang, HAM itu ditentukan oleh Pigai. Kalau Uceng yang menang, HAM itu ditentukan oleh Uceng. Itu artinya akan ada pembelahan lagi tentang isu itu,” tuturnya.
Rocky menegaskan bahwa secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal.
“HAM itu sudah final. Dia sifatnya universal. Dia datang dari nature manusia untuk saling merawat kemerdekaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan kemungkinan adanya pihak ketiga yang memanfaatkan kegaduhan publik dari debat tersebut.
“Karena ada pihak ketiga nanti akan numpang untuk mengacak-acak masyarakat sipil. Tentu akan ada yang tepuk tangan. Tapi apa artinya tepuk tangan?” ujarnya.
Menurut Rocky, diskursus mengenai HAM memang penting, tetapi harus dibedakan antara perdebatan kebijakan dengan perdebatan filosofis. Ia menilai ruang talkshow televisi bukan tempat yang tepat untuk membedah fondasi intelektual HAM secara mendalam.
“Kalau mau debat itu habis-habisan, datang ke universitas, karena di situ ada stok pengetahuan yang bisa diuji secara maksimal. Bukan di dalam debat-debat talkshow,” pungkasnya.
Baca juga: Natalius Pigai Sepakat Debat dengan Guru Besar UGM Bahas HAM, Sindir Seberapa Besar Ilmu Profesor
Natalius Pigai Tantang Prof Uceng Debat Terbuka Soal HAM
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menantang Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng, untuk menggelar debat terbuka mengenai isu hak asasi manusia (HAM) di Indonesia secara langsung di televisi nasional.
Tantangan tersebut bermula dari pertukaran pernyataan keduanya di media sosial X (Twitter).
Dalam cuitannya, Uceng menyampaikan kesediaannya untuk belajar memahami HAM dari Pigai sekaligus mendiskusikan satu per satu kasus HAM yang dinilai kontroversial.
“Saya setuju dengan bapak, seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja. Saya izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Saya mau diskusi dan debatkan satu per satu kasus HAM di Indonesia yang katanya bapak sudah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan di mana saya bisa belajar,” tulis Uceng melalui akun @zainalamochtar, Kamis (26/2).
Menanggapi hal tersebut, Pigai menyatakan setuju untuk menggelar debat dalam format siaran langsung di televisi nasional. Ia meminta Uceng menyiapkan forum tersebut apabila menjadi pihak yang mengundang.
“Saya setuju di TV Nasional dan live. Anda yang undang maka saya minta Anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar-benar mau ajari Anda soal HAM agar paham,” ujar Pigai.
Pigai juga menyarankan Uceng untuk menonton tayangan YouTube dirinya bersama Fadli Zon sebagai tambahan referensi sebelum debat digelar. Ia berharap masyarakat dapat menyaksikan langsung diskusi tersebut untuk menilai kedalaman pemahaman masing-masing pihak.
Sementara itu, Uceng menyatakan dirinya tidak memiliki kewenangan untuk mengatur stasiun televisi nasional. Ia justru meminta Pigai yang menghubungi pihak televisi agar debat dapat terealisasi.
“Saya tidak punya kekuasaan, Pak. Semoga ada TV nasional yang bisa fasilitasi. Kalau bapak yang colek mereka mungkin lebih berarti,” balasnya.
Uceng juga menyebut pengalamannya sebagai peneliti di Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selama tiga tahun serta latar belakang pendidikan S2 Hukum HAM di Amerika Serikat. Ia menegaskan kesiapannya untuk berdiskusi dan belajar lebih lanjut.
Perdebatan terbuka ini pun memicu perhatian publik, terutama terkait format diskusi ilmiah yang akan digunakan serta substansi kasus-kasus HAM yang akan dibahas jika debat tersebut benar-benar terlaksana.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.