Perang AS-Israel Vs Iran, Bahlil Pastikan Solar dan Pertralite Tidak akan Naik Hingga Lebaran
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa stok BBM nasional aman menjelang Idul Fitri sekalipun ada perang
Penulis:
Taufik Ismail
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM dan LPG nasional aman menjelang Idul Fitri, meski ada ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran.
- Kepastian ini disampaikan usai rapat bersama Dewan Energi Nasional di Istana Kepresidenan Jakarta.
- Pemerintah menjamin harga BBM subsidi seperti Solar (Biosolar) dan Pertalite tidak akan naik hingga Lebaran, meskipun harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa stok BBM nasional aman menjelang Idul Fitri sekalipun ada perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Hal itu disampaikan Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, (4/3/2026).
"Kemarin kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional, dan di situ kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insya Allah semua aman, termasuk dengan LPG. Jadi nggak perlu ada keraguan, sekalipun memang ada terjadi dinamika global di Iran dan Israel," kata Bahlil.
Bahlil juga menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan setidaknya sampai hari raya Idul fitri. Meskipun harga harga minyak mentah dunia naik, Bahlil mengatakan pemerintahtidak akan menaikkan harga BBM subsidi seperti Solar (Biosolar) dan Pertalite (RON 90).
"Saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran," katanya.
Sementara itu untuk harga BBM Non subsidi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) menurut Bahlil akan mengikuti harga pasar sebagaimana yang diatur Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
"BBM non subsidi itu memang mekanisme pasar," pungkasnya.
Perang picu resesi global
Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meyakini Indonesia akan menjadi salah satu negara yang terdampak dari segi ekonomi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Republik Islam Iran.
Kata Bhima, perang yang kini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu akan terus meningkat eskalasinya, sehingga memicu terjadinya resesi global.
"Perang AS Iran picu resesi global yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Ya Indonesia harus bersiap kalau global resesi, Indonesia akan terdampak," kata Bhima saat dimintai tanggapannya, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Negara-negara yang Paling Berisiko Mengalami Resesi Tahun 2026
Lebih dari itu, Bhima juga meyakini, perang di kawasan Timur Tengah ini juga akan memicu kelangkaan pasokan minyak dan gas.
Hal tersebut kata dia, akan turut berdampak besar bagi pasokan minyak dan bahan bakar di dalam negeri. Bhima bahkan memprediksi harga minyak bisa tembus sampai 120 US dollar per barrel.
"Perang Iran AS picu kesulitan pasokan minyak dan gas. Harga minyak yang naik terlalu cepat dan terlalu tinggi membuat shock pada sisi pasokan. Minyak bisa tembus 100-120 usd per barrel," kata dia.
Menurut dia, pemerintah memiliki dua opsi dalam menyikapi kenaikan harga minyak global tersebut, yakni dengan menaikkan harga BBM atau menahan harga BBM tetap stabil.
Baca tanpa iklan