Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khutbah Jumat 6 Maret 2026: Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan pada Allah

Berikut teks Khutbah Jumat, 6 Maret 2026 yang berjudul Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan kepada Allah.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Lanny Latifah
zoom-in Khutbah Jumat 6 Maret 2026: Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan pada Allah
Surya/Purwanto
KHUTBAH JUMAT - Umat muslim melaksanakan salat Jumat pertama di bulan Ramadhan 1445 H di Masjid Agung Jami Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (15/3/2024). Berikut teks Khutbah Jumat, 6 Maret 2026 yang berjudul Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan kepada Allah. SURYA/PURWANTO 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat, 6 Maret 2026, berjudul "Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan kepada Allah."

Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.

Pada kesempatan khutbah Jumat yang penuh berkah ini, khatib mengangkat tema penting yakni tentang beriktikaf.

Tema ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa merenung sejenak seraya mejawab dalam hati beberapa pertanyaan terkait "Berapa banyak waktu telah berlalu dalam hidup? Berapa banyak hari dihabiskan untuk dunia, pekerjaan, urusan, dan ambisi? Lalu berapa waktu yang benar-benar diberikan untuk duduk tenang bersama Allah?".

Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat 6 Maret 2026:

Baca juga: Khutbah Jumat 6 Maret 2026: Hikmah Nuzulul Quran dan Keutamaannya di Bulan Ramadan 1447 H

Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan kepada Allah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا مِنَ الْعِبَادَاتِ مَا يُزَكِّي أَنْفُسَنَا وَيُقَرِّبُنَا إِلَيْهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ تَأَسِّيًا وَاتِّبَاعًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ.

Jemaah Jum’at rahimakumullah,

Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khotbah dengan tema: “Iktikaf Menjernihkan Hati, Menguatkan Fokus dan Kedekatan kepada Allah”. Izinkan juga khatib mengajak hadirin untuk merenung sejenak seraya mejawab dalam hati beberapa pertanyaan berikut: Berapa banyak waktu telah berlalu dalam hidup kita? Berapa banyak hari dihabiskan untuk dunia, pekerjaan, urusan, dan ambisi? Lalu berapa waktu yang benar-benar kita berikan untuk duduk tenang bersama Allah?

Rekomendasi Untuk Anda

Di sinilah makna iktikaf menjadi sangat dalam. Iktikaf bukan sekadar tinggal di masjid. Iktikaf adalah berhenti sejenak dari dunia untuk menyelamatkan hati kita. Iktikaf merupakan salah satu amalan istimewa di bulan Ramadan. Iktikaf bukan sekadar tradisi, melainkan syariat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Dalam Q.S. Al Baqarah [2]: 187 Allah Swt berfirman:

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ.

“Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

Pada ayat yang lain Allah berfirman:

وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ.

“(Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)’!” (Q.S. Al-Baqarah: 125)

Pada ayat tersebut Allah menyebut iktikaf bersama tawaf, rukuk dan sujud. Ini menunjukkan kemuliaan ibadah iktikaf. Demikian istimewanya, Rasulullah saw sendiri pun secara konsisten beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Diriwayatkan dari sayidah ‘Aisyah r.a;

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari [Uqail] dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah r.a. bahwa Nabi saw melakukan iktikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadan, hingga Allah 'azza wajalla mewafatkannya. Setelah itu, istri-istrinya pun melakukan iktikaf." (Sahih Muslim: 2006)

Jemaah rahimakumullah,

Banyak hikmah yang terdapat dalam ibadah iktikaf. Pertama, untuk meraih malam Lailatul Qadar. Keutamaan iktikaf dilakukan di sepuluh hari terakhir adalah untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan), yang diisyaratkan oleh Rasulullah terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas