Konflik AS-Iran Bisa Goyang Ekonomi RI, CELIOS Minta Pemerintah Pertahankan Subsidi BBM
CELIOS meminta pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM di tengah kondisi situasi global dan perekonomian yang masih tidak menentu.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Jika Selat Hormuz sampai ditutup akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, maka pasokan minyak global dapat terganggu.
- Kondisi ini berisiko menimbulkan keterlambatan distribusi minyak hingga bisa memicu berkurangnya stok dan kelangkaan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
- CELIOS pun meminta pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM di tengah situasi itu.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, meminta pemerintah tetap mempertahankan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di tengah situasi global dan perekonomian yang masih tidak menentu.
Sebagaimana diketahui, jika Selat Hormuz sampai ditutup akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, maka pasokan minyak global dapat terganggu.
Kondisi ini berisiko menimbulkan keterlambatan distribusi minyak hingga bisa memicu berkurangnya stok dan kelangkaan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
"Kita tidak ingin daya beli masyarakat itu turun lagi, apalagi jauh lebih turun. Nah, artinya adalah subsidi untuk BBM jadi prioritas utama, terutama untuk yang pertalite."
"Karena apa? Karena subsidi BBM ini ketika dicabut subsidinya atau dikurangi subsidinya sehingga harga pertalite itu meningkat, maka impact-nya bisa ke mana-mana," ucap Nailul dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, dampak kenaikan harga pertalite bisa memengaruhi harga di dalam negeri, termasuk bisa berdampak kepada meningkatnya kemiskinan.
Oleh karena itu, CELIOS menilai, mempertahankan subsidi BBM adalah hal yang krusial bagi pemerintah.
"Dan ini yang bisa dilakukan pemerintah adalah melakukan realokasi anggaran. Realokasi anggaran dari anggaran-anggaran yang cukup besar dan memang tidak mempunyai impactful kepada ekonomi itu juga bisa direalokasi, digerakkan untuk infrastruktur," tuturnya.
Ia menyebut, pemerintah juga bisa melakukan realokasi anggaran dari program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini dilakukan agar daya beli masyarakat tidak terpuruk.
"Ini yang bisa dilakukan, selain tadi memberikan insentif bagi perusahaan yang terkena dampak dan sebagainya ataupun kita juga bersiap untuk menyetok minyak mentah secara banyak dari negara alternatif lainnya."
"Tapi yang jelas tujuan kita adalah untuk melindungi masyarakat agar tidak terdampak secara langsung, terdampak signifikan dari adanya kenaikan harga minyak dan sebagainya sehingga daya beli kita tetap terjaga dengan baik, tidak turun dan turun lagi. Yang jelas ini akan berefek kepada perekonomian secara luas," tegasnya.
Baca juga: Hari ke-8 Perang Iran: 1.332 Tewas, AS–Israel Gempur 3.000 Target, Rudal Hantam Negara Teluk
Suplai Minyak Tak Lagi dari Timur Tengah
Terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut, pemerintah telah mengambil langkah untuk mengamankan pasokan energi di tengah memanasnya konflik antara Israel-AS dengan Iran.
Hal ini disampaikan Bahlil merespons fenomena antrean kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Indonesia akibat kekhawatiran dampak perang di Timur Tengah.
Menurut Bahlil, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) telah mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lainnya.