Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Rabu 11 Maret Komisi VI DPR Panggil Dirut Pertamina, Bahas Mitigasi Risiko Konflik Timur Tengah

Komisi VI DPR RI menjadwalkan pemanggilan terhadap Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Rabu.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Rabu 11 Maret Komisi VI DPR Panggil Dirut Pertamina, Bahas Mitigasi Risiko Konflik Timur Tengah
Nitis Hawaroh/Tribunnews.com
MITIGASI DAMPAK RISIKO GEOPOLITIK - Komisi VI DPR RI menjadwalkan pemanggilan terhadap Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Rabu (11/3/2026). Rapat ini diagendakan secara khusus untuk membahas strategi mitigasi dampak risiko geopolitik di Timur Tengah terhadap ketahanan energi nasional. 

Ringkasan Berita:
  • Komisi VI DPR RI menjadwalkan pemanggilan terhadap Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Rabu (11/3/2026).
  • Rapat ini diagendakan secara khusus untuk membahas strategi mitigasi dampak risiko geopolitik di Timur Tengah terhadap ketahanan energi nasional.
  • Rapat ini penting dalam merespons eskalasi konflik di Timur Tengah.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi VI DPR RI menjadwalkan pemanggilan terhadap Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Rabu (11/3/2026). 

Rapat ini diagendakan secara khusus untuk membahas strategi mitigasi dampak risiko geopolitik di Timur Tengah terhadap ketahanan energi nasional.

Baca juga: Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan 

Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Hadityo Ganinduto, mengatakan rapat ini penting dalam merespons eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah penutupan Selat Hormuz akibat perang Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

"Kita Komisi VI akan memanggil PT Pertamina Persero untuk datang ke DPR untuk melaporkan segala mitigasi atas permasalahan yang terjadi di Timur Tengah," kata Firnando kepada Tribunnews.com, Senin (9/3/2026).

 

Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan pasca serangan Amerika Serikat terhadap 3 fasilitas nuklir Iran, Sabtu, 21 Juni 2025. Harga minyak mentah Brent yang selama ini menjadi patokan internasional, melonjak hingga 5,7 persen setelah pasar dibuka pada Minggu malam, tetapi kemudian kembali turun sekitar 3 persen dan diperdagangkan 79 dolar AS per barel.
Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan pasca serangan Amerika Serikat terhadap 3 fasilitas nuklir Iran, Sabtu, 21 Juni 2025. Harga minyak mentah Brent yang selama ini menjadi patokan internasional, melonjak hingga 5,7 persen setelah pasar dibuka pada Minggu malam, tetapi kemudian kembali turun sekitar 3 persen dan diperdagangkan 79 dolar AS per barel. (SodelVladyslav/Adobe Stock)

 

Rekomendasi Untuk Anda

Firnando meminta PT Pertamina (Persero) segera melakukan mitigasi yang cermat menyusul lonjakan ekstrem harga minyak mentah dunia yang menembus 114,36 dollar AS per barel.

Ia menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut akan berdampak langsung pada pasokan energi nasional, mengingat sekitar 19 persen impor Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia berasal dari kawasan tersebut. 

"Harapan kami sebagai Komisi VI, Pertamina harus segera melakukan mitigasi-mitigasi yang cermat supaya harga minyak atau BBM di Indonesia tidak naik dan APBN kita juga tidak jebol," ucap Firnando. 

Meski demikian, Firnando mengapresiasi langkah antisipatif yang telah diambil oleh Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Menurut dia, pemerintah telah mengambil sikap strategis dengan mendiversifikasi impor minyak dari negara-negara di luar Timur Tengah.

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. 

Jika tren kenaikan harga minyak mentah global terus berlanjut tanpa pengendalian, beban subsidi energi yang ditanggung negara akan semakin berat.

"Mengenai harga ini memang harus kita cermati dengan baik. Kalau harga ini semakin naik terus, APBN kita pasti akan jebol, karena kan kita banyak subsidi dari pemerintah. Ini harus diperhatikan betul," tegasnya.

Di sisi lain, Firnando menilai krisis geopolitik dan fluktuasi harga minyak saat ini merupakan teguran keras sekaligus momentum yang tepat bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas