Pemudik Lebaran 2026 Capai 143 Juta, Pemantauan Real Time Bakal Bantu Urai Kemacetan
Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah pemudik pada Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,91 juta orang
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Jumlah pemudik Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai 143,91 juta orang (50,6 persen penduduk Indonesia), sedikit menurun 1,75% dibanding 2025 yang sekitar 146 juta orang.
- Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-3 Lebaran (18 Maret 2026) dengan sekitar 21,97 juta orang melakukan perjalanan pada hari yang sama.
- Mobil pribadi masih menjadi moda utama, diperkirkan digunakan 76,24 juta orang, disusul sepeda motor (24,08 juta) dan bus (23,34 juta).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah pemudik pada Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,91 juta orang atau 50,6 persen dari total penduduk Indonesia.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans) menunjukkan jumlah pemudik tahun ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
"Berdasarkan hasil survei pergerakan masyarakat pada angkutan Lebaran tahun 2026 tercatat mencapai 50,60 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 143,91 juta orang. Angka ini menurun sebesar 1,75 persen dibandingkan hasil survei angkutan Lebaran tahun 2025 sekitar 146 juta orang," ujar Dudy dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).
Kemenhub juga memperkirakan puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 Lebaran atau Rabu, 18 Maret 2026.
Pada hari tersebut diprediksi sekitar 21,97 juta orang atau 15,26 persen dari total pemudik melakukan perjalanan secara bersamaan.
Dari sisi moda transportasi, mobil pribadi diperkirakan masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan jumlah sekitar 76,24 juta pemudik.
Selanjutnya sepeda motor digunakan oleh sekitar 24,08 juta orang, sementara bus diperkirakan mengangkut 23,34 juta penumpang.
Besarnya skala mobilitas tersebut menuntut pengelolaan lalu lintas yang lebih akurat, termasuk melalui pemantauan kondisi jalan, terminal, stasiun, hingga sistem transportasi publik.
Country Manager Axis Communications Indonesia Johny Dermawan mengatakan teknologi pemantauan membantu otoritas transportasi mengelola mobilitas selama periode perjalanan puncak.
Menurutnya, sistem pemantauan tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat pengawasan, tetapi juga mampu menghasilkan data yang membantu memahami pola lalu lintas dan mendeteksi insiden lebih dini.
"Teknologi pemantauan saat ini telah melampaui pengawasan tradisional. Sistem modern mampu menghasilkan data yang membantu otoritas memahami pola lalu lintas, mendeteksi insiden lebih awal, dan meningkatkan respons operasional," kata Johny.
Laporan Thought Lab berjudul From Future Vision to Urban Reality yang didukung Axis Communications juga menyoroti pentingnya data real time dalam pengelolaan mobilitas perkotaan.
Data dari sistem pemantauan dapat membantu pengambil kebijakan mengoperasikan berbagai layanan transportasi secara lebih efektif, mulai dari manajemen lalu lintas, sistem parkir, transportasi publik, hingga platform mobilitas digital.
Key Account Manager End Customer Axis Communications Vicky Gitasiswaya menambahkan, sistem pemantauan modern yang dilengkapi analitik cerdas dapat mendukung berbagai fungsi operasional di sektor transportasi.
Salah satu penerapannya adalah pada manajemen sinyal lalu lintas cerdas, di mana sistem memantau panjang antrean kendaraan di titik kemacetan untuk mengoptimalkan durasi lampu lalu lintas.
Baca tanpa iklan