Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Gugur, Pengamat: Strategi Decapitation AS Tak Mempan di Iran
Menurut analis geopolitik Dina Sulaeman, kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani tidak dipandang sekadar 'kehilangan pemimpin' oleh Iran.
Penulis:
Rizkianingtyas Tiarasari
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader) Ayatollah Ali Khamenei dan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran Ali Larijani tewas dalam serangan AS-Israel.
- Menurut analis geopolitik Dina Sulaeman, kematian kedua tokoh tersebut tidak dipandang sekadar 'kehilangan pemimpin.'
- Dina menilai, justru kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani akan memperkuat perjuangan masyarakat Iran melawan tirani AS-Israel.
TRIBUNNEWS.COM - Analis geopolitik sekaligus pengamat kajian Timur Tengah, Dina Sulaeman, menyoroti gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader) Ayatollah Ali Khamenei dan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran Ali Larijani dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan udara gabungan AS-Israel yang menargetkan kediamannya di ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, atau hari pertama Operation Epic Fury.
Kabar meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi oleh media Iran, Fars News Agency, pada Minggu (1/3/2026).
Khamenei tewas bersama anggota keluarga (putri, menantu, cucu) dan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ali Shamkhani (Kepala Dewan Pertahanan Nasional Iran), Aziz Nasirzadeh (Menteri Pertahanan Iran), dan Mohammad Pakpour (Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran/IRGC).
Kurang dari tiga pekan berselang, Ali Larijani juga tewas dalam serangan udara AS-Israel pada Senin (16/3/2026) malam waktu setempat, dan dikonfirmasi oleh SNSC pada Rabu (18/3/2026) dini hari.
Ali Larijani tewas bersama putranya, Morteza Larijani, serta salah satu penasehat dan beberapa orang pengawalnya, kala operasi militer skala besar dari AS-Israel terus berlangsung di Iran.
Adapun Ali Larijani sebelumnya telah dianggap sebagai sosok berpengaruh di Iran setelah gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, dan memegang peran penting dalam pengambilan keputusan terkait perang, diplomasi, dan keamanan nasional.
Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Tak akan Lemahkan Iran
Dina Y. Sulaeman menyebut, syahidnya Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani adalah kemartiran strategis, di mana kepergian kedua tokoh penting Iran tersebut tidak sekadar 'kehilangan pemimpin.'
Namun, menurutnya, tewasnya dua pemimpin tersebut justru akan memperkuat perjuangan Iran.
Hal ini tertuang dalam tulisan yang terinspirasi dari pengamat politik Lebanon, Amal Saad, dan diunggah di akun media sosial X (dulu Twitter) @dinasulaeman pada Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Iran Hadapi Ancaman Sanksi PBB Akibat Blokade Selat Hormuz
Dina yang merupakan dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad) itu menyebut, AS selama ini memakai strategi 'decapitation' atau melemahkan suatu kelompok/negara dengan cara membunuh pemimpinnya.
'Decapitation' sendiri secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti pemenggalan kepala.
Akan tetapi, strategi yang dipakai duet AS-Israel tersebut tidak mempan atau berlaku saat diterapkan terhadap Iran.
"Dalam konteks Iran, peristiwa itu sering berubah menjadi 'kemartiran strategis'—yaitu kematian yang malah memperkuat perjuangan, bukan melemahkannya," tulis Dina.
Baca tanpa iklan