Prabowo Sebut BUMN Kebobolan Paling Besar: Sedang Saya Bersihkan
Presiden Prabowo Subianto menyoroti permasalahan yang ada di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Presiden Prabowo Subianto menyatakan BUMN adalah salah satu kebobolan terbesar yang terjadi di Indonesia.
- Prabowo menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang melakukan pembenahan terhadap pengelolaan aset negara.
- Ia mengakui masih ada sejumlah persoalan di internal birokrasi yang menjadi tantangan dalam reformasi pemerintahan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prabowo Subianto menyoroti permasalahan yang ada di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Prabowo menyebut, BUMN adalah salah satu kebobolan terbesar yang terjadi di Indonesia.
“BUMN selama ini salah satu kebobolan kita paling besar,” kata Prabowo Prabowo dalam sesi tanya jawab dengan sejumlah tokoh di kediamannya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026).
Prabowo menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang melakukan pembenahan terhadap pengelolaan aset negara.
“BUMN saya sedang bersihkan,” tegasnya.
Ketua Umum Partai Gerindra itu mengakui masih ada sejumlah persoalan di internal birokrasi yang menjadi tantangan dalam reformasi pemerintahan.
“Kita kita menemukan deep state, kita menemukan ada dirjen-dirjen yang berani ngelawan menteri,” tuturnya.
Selain itu, Prabowo menyoroti adanya pejabat yang merasa tidak tersentuh pengawasan.
“Ada dirjen-dirjen yang merasa untouchable, ada lembaga-lembaga yang merasa enggak boleh diaudit,” jelasnya.
Prabowo menekankan bahwa usaha pembersihan ini bukanlah pekerjaan mudah, akan tetapi itu merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan.
Baca juga: Prabowo soal Efisiensi Anggaran: Kita Menghemat Rp308 Triliun
Efisiensi Anggaran
Prabowo juga mengatakan, pemerintah dapat menghemat anggaran hingga Rp308 triliun setelah memberlakukan kebijakan efisiensi dengan memangkas pos-pos belanja yang tidak produktif.
Menurutnya, efisiensi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) bertujuan untuk menyelamatkan uang rakyat dari potensi tindak pidana korupsi.
"Waktu pertama kita lakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pusat sebagian besar ya. Dan dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya itu semua Rp308 triliun ini, kalau tidak dipotong ini ke arah korupsi," ungkapnya.
Prabowo mengaitkan langkah tersebut dengan indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi suatu negara.
Baca tanpa iklan