Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Terdampak Perang di Timteng, Indonesia Bisa Kehilangan 1,68 Juta Kunjungan Wisatawan Asing

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap dampak perang di Asia Barat terhadap sektor pariwisata di tanah air.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Febri Prasetyo
Editor: Nuryanti
zoom-in Terdampak Perang di Timteng, Indonesia Bisa Kehilangan 1,68 Juta Kunjungan Wisatawan Asing
Tribunnews.com/DPR RI
RAPAT KERJA - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan dampak perang di Timur Tengah dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata di Jakarta, Rabu, (1/4/2026). 

Ringkasan Berita:

 

TRIBUNNEWS.COMMenteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap dampak perang di Asia Barat terhadap sektor pariwisata di Tanah Air.

Perang di Asia Barat meletus pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran. Perang masih berkobar hingga saat ini sehingga sudah berlangsung lebih dari sebulan.

Akibat perang itu, ada sejumlah penerbangan dari Asia Barat ke Indonesia yang terdampak.

“Dalam periode 29 hari dari 28 Februari hingga 28 Maret 2026, terdapat enam titik asal penerbangan yang terdampak, yaitu Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat,” ucap Widiyanti dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata di Jakarta, Rabu, (1/4/2026).

Widiyanti berkata sudah ada pembatalan 770 penerbangan dari/ke 6 asal penerbangan tersebut ke/dari Jakarta, Denpasar, dan Medan. Adapun potensi hilangnya kunjungan wisatawan asing mencapai 60.752 kunjungan.

Rekomendasi Untuk Anda

“Rp2,04 triliun potensi devisa tidak terealisasi,” ungkapnya.

Dia mengklaim apabila kondisi buruk di Asia Barat berlangsung hingga akhir tahun, Indonesia diperkirakan kehilangan 1,44 juta hingga 1,68 juta kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, potensi devisa yang tidak terealisasi bisa mencapai 48,3 triliun hingga 56,5 triliun.

Menurut Widiyanti, konflik di Asia Barat juga menyebabkan melambungnya harga minyak dunia sehingga mengerek biaya transportasi.

“Kenaikan biaya perjalanan ini berpotensi menekan permintaan perjalanan wisata, baik domestik maupun internasional. Saat ini harga minyak mentah meningkat menjadi 52,21 persen dari 67,02 dolar AS per barel (sebelum konflik) menjadi 102,01 dolar AS per barel pada 30 Maret 2026,” kata dia.

Baca juga: Wamenpar Klaim Pungli di Destinasi Wisata Turun Selama Libur Lebaran

Widiyanti menyampaikan kenaikan di atas telah direspons oleh para pelaku industri dengan cara menyesuaikan tarif transportasi feri rute Singapura-Batam yang menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan mancanegara dari Singapura.

Sementara itu, maskapai penerbangan mulai mengenakan fuel surcharge atau tambahan biaya akibat melambungnya harga minyak. Maskapai itu salah satunya Air India yang banyak mengangkut wisman ke Indonesia.

“Cathay Pacific sebagai maskapai hub non-Timur Tengah juga penting untuk konektivitas global, menaikkan fuel surcharge sebesar 105 persen.”

Di tengah tantangan besar ini, Widiyanti berkata Kemenpar tetap berkomitmen mencapai target 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisman pada tahun 2026.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas