TB Hasanuddin Minta TNI Jangan Langsung Mundur dari Lebanon Usai 3 Prajurit Gugur
Mabes TNI harus melakukan evaluasi menyeluruh secara taktis dan teknis di lapangan.
Penulis:
Fersianus Waku
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- TB Hasanuddin menilai penarikan pasukan TNI dari Lebanon tidak boleh dilakukan terburu-buru usai gugurnya prajurit dalam misi UNIFIL .
- Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh untuk memastikan penyebab kejadian sebelum mengambil keputusan.
- Penarikan pasukan hanya layak dilakukan jika keberadaan pasukan yang dinilai sudah tidak efektif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menilai pemerintah tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan untuk menarik mundur pasukan TNI dari Lebanon pasca-gugurnya tiga prajurit dalam misi perdamaian UNIFIL.
Menurut TB Hasanuddin langkah penarikan pasukan tidak boleh diambil secara emosional tanpa didahului investigasi dan evaluasi teknis yang mendalam.
"Menurut hemat saya jangan kemudian karena ada korban langsung memundurkan diri karena harapan kita justru yang terbanyak itu adalah dari, dari satuan TNI," kata TB Hasanuddin di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Sekretaris Militer Presiden (2001-2005) ini menekankan sebelum memutuskan untuk bertahan atau mundur, Mabes TNI harus melakukan evaluasi menyeluruh secara taktis dan teknis di lapangan.
Evaluasi ini penting untuk membedah apakah ada kesalahan prosedur atau kelengkapan yang memicu terjadinya insiden maut tersebut.
"Harus dilakukan evaluasi menyeluruh oleh Mabes TNI ya. Jadi ini terjadinya itu apakah kita misalnya tidak membawa kode-kode yang pas, apakah kita misalnya tidak memakai seragam yang sesuai kebutuhan sehingga menimbulkan sesuatu dan kebijakan-kebijakan lain," ujar TB Hasanuddin.
Investigasi terlebih dahulu
Ia menambahkan keputusan untuk mundur hanya bisa diambil jika hasil investigasi menyatakan bahwa keberadaan pasukan Indonesia sudah benar-benar tidak lagi efektif.
"Artinya tidak serta merta karena ada kasus ini kemudian mundur. Enggak, pelajari dulu. Kalau hasil investigasi, hasil evaluasi dinyatakan sudah tidak lagi efektif dan tidak ada manfaatnya baru, baru kita mundur dengan baik-baik," tutur TB Hasanuddin.
Di sisi lain, TB Hasanuddin mengingatkan bahwa masa tugas satuan tersebut memang akan segera berakhir dalam waktu dekat sesuai dengan ketetapan Dewan Keamanan PBB.
"Tetapi perlu dicatat ya satuan tugas ini khususnya seluruh UNIFIL ini akan berakhir sesuai mandat pada tanggal 31 Desember tahun ini jadi tinggal beberapa bulan lagi itu kira-kira," ungkapnya.
Tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon kembali dilaporkan gugur dalam misi pemeliharaan perdamaian tersebut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan, situasi keamanan di wilayah penugasan dilaporkan mengalami eskalasi dalam beberapa hari terakhir.
Pada 29 Maret 2026, satu prajurit TNI yakni Praka Farizal Romadhon gugur dan beberapa lainnya mengalami luka-luka akibat dampak konflik yang terjadi di wilayah operasi.
Sementara itu, kata Rico, perkembangan terbaru yang diterima pada 30 Maret 2026 menunjukkan kembali terjadinya insiden di wilayah Lebanon Selatan yang berdampak pada personel Satgas TNI yang sedang melaksanakan tugas pengawalan guna mendukung kegiatan operasional UNIFIL.
"Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut," kata Rico saat dikonfirmasi pada Selasa (31/3/2026).
Baca tanpa iklan