Tema Paskah 2026 dari PGI, Simak Isi Pesan Lengkapnya
PGI mengusung tema Paskah 2026 yakni "Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita", simak isi pesan lengkapnya.
Penulis:
Nurkhasanah
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) telah merilis tema Paskah tahun 2026.
Paskah adalah hari raya terpenting dalam agama Kristen dan Katolik.
Paskah memperingati hari kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya di Bukit Golgota.
Peristiwa ini disimbolkan sebagai kemenangan atas dosa dan kematian, serta memberikan harapan kehidupan baru bagi umat beriman.
Tahun ini, Paskah jatuh pada hari Minggu, 5 April 2026.
Berdasarkan SKB 3 Menteri, rangkaian libur Paskah 2026 di Indonesia meliputi Jumat Agung (libur nasional) pada 3 April, Sabtu Suci pada 4 April, dan Minggu Paskah pada 5 April.
Tema Paskah PGI 2026
Tema Paskah 2026 dari PGI yakni “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita” berdasarkan 2 Korintus 5:17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang“.
Tema Paskah tersebut mengajak umat Kristiani untuk kembali merayakan dengan penuh syukur dan sukacita prakarsa dan karya Ilahi yang digerakkan cinta kasih untuk menghadirkan jalan baru menerobos kebuntuan dan kekacauan yang diakibatkan ulah manusia.
Di dalam Kristus yang adalah gambar-Nya (Kol 1:15), Allah telah hadir sepenuhnya di dalam sejarah untuk memulihkan ciptaan-Nya. Tak terkecuali, manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya diciptakan “ulang“ menjadi manusia baru.
Baca juga: 50 Ucapan Selamat Paskah yang Bermakna, Penuh Harapan dan Doa
Isi Pesan Paskah PGI 2026
Tema Paskah PGI 2026
KRISTUS BANGKIT MEMBARUI KEMANUSIAAN KITA
(bdk. 2 Korintus 5:17)
Saudara-saudari seiman di dalam Yesus Kristus,
Saat ini kita memasuki Paskah 2026. Tema Paskah PGI tahun ini adalah “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita” berdasarkan 2 Korintus 5:17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang“. Ketika berbicara tentang ciptaan baru, kita diingatkan kembali tentang ciptaan semula yang dinilai oleh Pencipta-Nya sendiri: “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik“ (Kej. 1:31). Ia memberkati manusia dan menyerahkan mandat untuk merawat ciptaan-Nya (1:28). Namun, Alkitab memberi gambaran sebaliknya tentang kegagalan manusia untuk merawat hidup yang dianugerahkan Tuhan, baik dalam relasi antara-pribadi, antar-keluarga, antar-bangsa, dan antar-ciptaan.
Tema Paskah kita mengajak kita kembali untuk merayakan dengan penuh syukur dan sukacita prakarsa dan karya Ilahi yang digerakkan cinta kasih untuk menghadirkan jalan baru menerobos kebuntuan dan kekacauan yang diakibatkan ulah manusia. Di dalam Kristus yang adalah gambar-Nya (Kol 1:15), Allah telah hadir sepenuhnya di dalam sejarah untuk memulihkan ciptaan-Nya. Tak terkecuali, manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya diciptakan “ulang“ menjadi manusia baru. Ketika yang lama berlalu dan yang baru tiba, tercipta realitas kehidupan baru yang diarahkan kembali pada tujuan Allah. Dalam persekutuan dengan Kristus (Yunani: en Christo), terjadi transformasi manusia seutuhnya, mulai dari kedalaman eksistensinya yang paling personal hingga perubahan orientasi hidup dan perilakunya yang berdampak bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan hidup.
Paskah adalah peristiwa kemenangan iman saat Kristus yang bangkit memperdamaikan manusia dengan diriNya. Ia yang adalah Allah telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai seorang hamba, menjadi seperti manusia, yang merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (bnd. Fil. 2:7-8). Ketika Ia bangkit, Ia melunasi semua utang dosa yang melekat dalam diri manusia dan menjadikan manusia itu sungguh-sungguh ciptaan baru. Kebangkitan Kristus membuka jalan bagi pembaruan cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Kemanusiaan yang dibarui adalah kemanusiaan yang berlandaskan kasih, keadilan, perdamaian, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat setiap orang tanpa kecuali. Kristus yang bangkit memanggil kita keluar dari pola hidup lama yang menyuburkan sikap egois, kebencian, ketidakpedulian, ketidakadilan, dan kekerasan, menuju kepada kehidupan baru yang memancarkan kasih dan memanusiakan sesama serta menghargai seluruh ciptaan. Proses ini dimulai dari komunitas terkecil, keluarga sebagai ecclesia domestica (“gereja rumah tangga“). Di dalam keluargalah iman dipelihara, kasih dipraktikkan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dibarui ditanamkan sejak dini. Di dalam ecclesia domestica, kebangkitan Kristus menjadi nyata melalui doa bersama, pendidikan iman, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta ciptaan.
Pada saat yang sama, kebangkitan Kristus merupakan tanda penyembuhan terhadap luka-luka kemanusiaan sekaligus terhadap jeritan penderitaan seluruh ciptaan. Luka kemanusiaan itu tampak dalam konflik berkepanjangan, kekerasan struktural, kemiskinan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Namun, luka tersebut juga terhubung erat dengan krisis ekologis yang semakin mengancam keberlangsungan hidup bersama. Kerusakan lingkungan—seperti deforestasi masif, pencemaran air dan tanah, krisis iklim, bencana ekologis, serta hilangnya keanekaragaman hayati—bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri melainkan akibat dari keserakahan manusia, gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta kebijakan pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis.
Visi kebangkitan Kristus menuntut pembaruan relasi manusia dengan alam dan tanggung jawab etis untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Pembaruan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari pertobatan ekologis—yakni perubahan cara pandang, gaya hidup, dan praktik sosial-ekonomi yang lebih adil, lestari, dan berpihak pada kehidupan. Dalam terang kebangkitan-Nya, kita dengan tegas mengecam setiap pelaku perusakan lingkungan, baik individu, korporasi, maupun kebijakan negara yang abai terhadap keadilan ekologis. Perbuatan merusak bumi adalah dosa yang menolak kasih Allah dan mengkhianati panggilan manusia sebagai penatalayan ciptaan.
Dengan visi kebangkitan Kristus yang memulihkan ciptaan, PGI menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di Timur Tengah dan Asia Selatan. Kekerasan militer yang melibatkan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, Iran, Pakistan, dan Afghanistan, telah menimbulkan penderitaan bagi warga sipil dan mengancam perdamaian dunia. Bersama-sama, kita menegaskan bahwa gereja berpihak kepada mereka yang paling rentan —warga sipil, keluarga yang tercerai-berai, serta anak-anak yang hidup dalam ketakutan. Karena itu, kita menyerukan penghentian semua aksi militer, mendorong dialog yang adil, serta mengajak umat untuk mendoakan perdamaian, menunjukkan solidaritas bagi para korban, dan menghindari ujaran kebencian.
Paskah adalah awal kehidupan yang baru—kehidupan yang dimenangkan oleh kasih dan harapan. Kebangkitan Kristus memanggil orang percaya untuk membangun kehidupan dengan hati yang dibarui, iman yang diteguhkan, serta kasih yang semakin nyata dalam tindakan. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian tentang harapan yang tidak pernah padam: harapan akan kemanusiaan yang dipulihkan, masyarakat yang adil dan damai, serta ciptaan yang dirawat dan dihargai bagi kemuliaan Allah.
Selamat Paskah! Kiranya kasih dan keadilan Allah nyata di dunia, sehingga perdamaian sejati hadir bagi seluruh umat manusia dan ciptaan.
Link Unduh Pesan Paskah PGI 2026 >>> klik di sini
(Tribunnews.com/Nurkhasanah)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.