Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
VS
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Guru PPPK Terpaksa Nyambi Jadi Ojol hingga Buruh Imbas Anggaran MBG

Guru ASN PPPK paruh waktu dilaporkan menerima gaji rendah berkisar Rp50 ribu per bulan. Kondisi ekonomi memaksa mereka mencari pekerjaan tambahan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Guru PPPK Terpaksa Nyambi Jadi Ojol hingga Buruh Imbas Anggaran MBG
mkri.id
KETERANGAN SAKSI MK - Koordinator Nasional P2G, Iman Zanatul Haeri, selaku saksi pemohon menyampaikan keterangan sebagai saksi dalam sidang uji materi UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026 di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin (15/6/2026). Dalam keterangannya, Iman menyoroti dampak kebijakan anggaran MBG pemerintah terhadap kesejahteraan guru ASN PPPK paruh waktu. 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Koordinator Nasional P2G mengungkap fakta miris guru ASN PPPK paruh waktu yang menerima gaji antara Rp50 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
  • Kondisi ekonomi memaksa para pendidik bekerja serabutan, mulai dari ojek online hingga bimbel, demi memenuhi kebutuhan hidup.
  • Pemerintah melalui Kemenkeu menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah bagian integral kebijakan pendidikan dan tidak melanggar mandatory spending.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  Profesi guru ASN (Aparatur Sipil Negara) PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) paruh waktu kini menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat.

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, mengungkapkan banyak tenaga pendidik terpaksa mencari pekerjaan sampingan, mulai dari menjadi pengemudi ojek online hingga buruh serabutan. 

Upaya itu dilakukan demi menutupi kebutuhan hidup akibat nominal gaji yang sangat kecil imbas kebijakan penganggaran pemerintah.

Jeritan Guru di Daerah

Fakta ini disampaikan Iman saat memberikan keterangan sebagai saksi ahli dalam sidang uji materi UU (Undang-Undang) Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2026 dan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin (15/6/2026).

Ia memaparkan data di Kabupaten Sumedang, di mana seorang guru hanya menerima gaji Rp50.000 per bulan, bahkan hanya tersisa sekitar Rp15.000 setelah dipotong iuran BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

"Sebagian besar punya pekerjaan lain, ada yang ojek online, ada yang jualan di kantin. Mereka mencoba bertahan sebisa mungkin," ujar Iman kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menambahkan, kondisi serupa dengan gaji berkisar Rp100.000 hingga Rp500.000 per bulan ditemukan di daerah lain seperti Kabupaten Dompu dan Musi Rawas.

Berdasarkan catatannya, terdapat lebih dari 10 kabupaten/kota yang menerapkan standar gaji sangat rendah bagi guru PPPK paruh waktu.

"Ada yang bimbel (bimbingan belajar) di tempat lain, ada yang ikut kerja serabutan. Apa pun dikerjakan yang penting kehidupannya bisa terpenuhi," tegas Iman.

Ia menekankan bahwa para guru tersebut tidak bisa lagi mengandalkan penghasilan dari pemerintah untuk menyambung hidup.

Baca juga: Komnas HAM Temukan Indikasi Kuat Pelanggaran HAM di Program MBG

Argumentasi Pemerintah

Di sisi lain, pemerintah dalam persidangan sebelumnya (14/4/2026) meminta MK menolak permohonan uji materi terkait penganggaran MBG dalam APBN 2026.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, menegaskan bahwa MBG adalah bagian dari kebijakan pendidikan nasional.

"Kecukupan gizi merupakan prasyarat fundamental bagi optimalisasi proses belajar dan perkembangan kecerdasan peserta didik," kata Luky.

Pemerintah menegaskan bahwa pendidikan mencakup pembangunan manusia secara menyeluruh, sehingga MBG dipandang sebagai investasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar-mengajar," ujarnya.

Baca juga: Purbaya Akan Temui Bos BGN Pekan Ini, Bahas Pemangkasan Anggaran MBG?

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas