Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kemacetan Menuju Pelabuhan Ketapang Jadi 'Ritual Tahunan', Pemerintah Diminta Beri Solusi Permanen

Sonny mendesak pemerintah segera mengambil langkah luar biasa mengantisipasi kemacetan parah di Pelabuhan Ketapang.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kemacetan Menuju Pelabuhan Ketapang Jadi 'Ritual Tahunan', Pemerintah Diminta Beri Solusi Permanen
Istimewa
PELABUHAN KETAPANG - Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan tajam. Pemerintah diminta segera mengambil langkah luar biasa dan solusi permanen. Foto situasi Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jumat (1/8/2025). (ASDP) 

Ringkasan Berita:
  • Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan tajam.
  • DPR menilai persoalan ini bukan lagi kejadian insidental, melainkan telah berubah menjadi “ritual tahunan” yang terus berulang tanpa solusi permanen.
  • Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDIP, Sonny T Danaparamita mendesak pemerintah segera mengambil langkah luar biasa.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan tajam. 

DPR menilai persoalan ini bukan lagi kejadian insidental, melainkan telah berubah menjadi “ritual tahunan” yang terus berulang tanpa solusi permanen.

Baca juga: H+1 Lebaran 2026, Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang Ramai Lancar

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T Danaparamita, menyebut kondisi kemacetan horor yang terjadi hingga awal April 2026 sebagai bukti lemahnya penanganan pemerintah dalam mengelola sistem logistik nasional dan infrastruktur penyeberangan.

Menurutnya, antrean kendaraan yang mengular hingga belasan kilometer tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga berdampak luas terhadap sektor pangan dan ekonomi masyarakat di wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Rekomendasi Untuk Anda

 

Sebagai legislator yang membidangi pertanian, kelautan, dan perikanan, Sonny menegaskan bahwa kondisi ini telah berkembang menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional. 

Dia memperkirakan kerugian yang dialami petani dan peternak bisa mencapai miliaran rupiah.

"Ini bukan sekadar masalah lalu lintas. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap hak-hak ekonomi rakyat," kata Sonny, kepada Tribunnews.com, Kamis (2/4/2026).

Ia menjelaskan, dampak kemacetan terlihat nyata di lapangan. Produk hortikultura seperti sayur dan buah dari Jawa Timur membusuk di dalam truk akibat lamanya waktu antre.

Selain itu, para peternak juga mengalami kerugian karena ternak mereka mengalami stres dan penurunan bobot secara signifikan selama terjebak di jalur macet.

Sementara itu, nelayan turut terdampak karena kualitas ikan segar menurun bahkan membusuk sebelum sampai ke pasar.

"Dan yang lebih parah lagi, hal itu semua akan bermuara pada inflasi daerah yang mengakibatkan lonjakan harga dan ujung-ujungnya masyarakat semuanya yang akan merasakan akibatnya," ucapnya.

Sonny menilai langkah pemerintah melalui skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) maupun penambahan jumlah kapal belum menyentuh akar persoalan. Ia menyebut kebijakan tersebut hanya bersifat sementara.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas