Lestari Moerdijat Dorong Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Nasional
Lestari Moerdijat menilai kondisi kesehatan mental anak dan remaja Indonesia sudah masuk tahap darurat.
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM - Kesehatan mental dinilai menjadi aspek penting yang harus dimuat dalam kurikulum pendidikan nasional.
Menurut Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat atau akrab disapa Rerie, kondisi darurat kesehatan mental pada anak dan remaja saat ini menuntut langkah nyata serta terintegrasi dari semua pihak.
"Penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak dan remaja sangat krusial. Ini demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa," ujar Rerie dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Senin (13/4/2026).
Data Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan bahwa sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.
Temuan tersebut diperkuat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Maret 2026 yang menyatakan satu dari 10 anak Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.
Baca juga: Lestari Moerdijat: Pemanfaatan AI Harus Mampu Perkuat Proses Berpikir Kritis Peserta Didik
Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, sebanyak 363.326 anak atau 4,8 persen menunjukkan gejala depresi dan 338.316 anak atau 4,4 persen mengalami gejala kecemasan.
Namun, dari jumlah itu, hanya 2,6 persen anak dan remaja yang mendapatkan penanganan profesional.
Rerie menilai sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja dalam beberapa bulan terakhir, seperti anak membunuh ibu di Sumbawa, NTB, dan di Semarang, Jawa Tengah, bukanlah anomali.
"Itu adalah gejala dari sistem yang gagal membekali mereka dengan kemampuan paling dasar sebagai manusia, yaitu memahami diri sendiri," kata Rerie.
Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu juga mengkritisi sistem pendidikan nasional yang selama ini terlalu memuja angka, peringkat, dan capaian kognitif, tetapi mengabaikan kesehatan mental serta kematangan emosi.
Baca juga: Lestari Moerdijat: Peningkatan Literasi Diperlukan untuk Hadapi Tantangan Kehidupan Berbangsa
"Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka sekolah tanpa disadari akan menjadi ruang yang justru memproduksi tekanan, bukan membangun ketahanan. Kesehatan mental harus menjadi bagian inti dalam kurikulum nasional," jelas Rerie.
Rerie menambahkan, anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan dengan tekanan yang semakin kompleks, tetapi belum sepenuhnya dibekali kemampuan untuk memahami dan mengelolanya.
Menurutnya, tanpa upaya intervensi yang serius, bangsa Indonesia berisiko kehilangan satu generasi karena tumbuh dalam tekanan ancaman kesehatan jiwa yang rapuh.
"Untuk menjadi bangsa yang kuat, kita membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental," terang politisi Fraksi Partai NasDem itu.
Menurut Rerie, diperlukan komitmen kuat dan langkah nyata dari para pemangku kepentingan agar mampu mewujudkan mekanisme tepat yang melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter kuat, dan berdaya saing di masa depan.
Baca juga: Lestari Moerdijat: Peningkatan Keterampilan Guru Kunci Wujudkan Pendidikan Inklusif
Baca tanpa iklan