Rupiah Melemah ke Rp17.300, Ekonom: Faktor Memanasnya Perang Amerika dan Iran
Josua mengatakan akibat memanasnya perang antara AS dan Iran, bukan hanya nilai tukar rupiah saja yang melemah, tetapi mata uang asing juga terdampak.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Josua mengatakan bahwa akibat memanasnya perang antara AS dan Iran, bukan hanya nilai tukar rupiah saja yang melemah, tetapi mata uang asing juga terdampak.
- Josua mengatakan harga minyak kini kembali menembus 100 Dollar per barel, bahkan sudah mendekati 106 Dollar per barel.
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, juga mengatakan bahwa pelemahan rupiah tidak lepas dari kondisi eksternal.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Perdede, menilai melemahnya nilai tukar rupiah hingga Rp17.300 per Dolar AS karena imbas dari memanasnya perang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Nilai tukar Rupiah memang telah menyentuh dan menembus level psikologis baru di angka Rp17.300 per Dolar AS pada tanggal 23-24 April 2026. Angka ini tercatat sebagai titik terendah sepanjang sejarah (rekor terlemah), melampaui level terendah sebelumnya saat krisis 1998.
Anjloknya nilai tukar rupiah ini karena harga minyak yang tetap tinggi akibat perang AS-Iran dan kekhawatiran berkelanjutan terkait fiskal serta tata kelola negara, sehingga membuat investor asing enggan menanamkan modal di Indonesia.
Josua pun mengatakan, akibat memanasnya perang antara AS dan Iran, bukan hanya nilai tukar rupiah saja yang melemah, tetapi mata uang asing juga terdampak.
"Yang terjadi kemarin adalah memang ini fenomena regional atau pun secara global ya, yang di mana bukan rupiah saja yang melemah sendirian, tapi memang seluruh mata uang Asia serentak melemah," ungkapnya, Jumat (24/4/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.
"Ini biang keroknya memang Timur Tengah kembali memanas ya, negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran kembali lagi tidak menemukan titik temunya," tambahnya.
Oleh karena itu, kata Josua, harga minyak kembali menembus 100 Dollar per barel, bahkan sudah mendekati 106 Dollar per barel.
"Sehingga memang kita melihat bahwa ini memberikan ketidakpastian baru lagi, ini memberikan risk of sentiment ya di pasar valas, mendorong investor global mencari aset-aset aman terutama Dollar Amerika Serikat dan juga safe haven aset lainnya."
"Pada akhirnya kita melihat bahwa investor global cenderung membuang aset-aset yang lebih berisiko dan akhirnya imbasnya adalah secara keseluruhan ya, mata uang Asia di perdagangan kemarin itu cenderung melemah," jelas Josua.
Selain itu, pasar saham Asia juga melemah dan imbal hasil surat utang di negara berkembang pun juga ikut naik, termasuk Indonesia.
"ini merupakan dampak dari memanasnya kembali tensi di Timur Tengah," tegas Josua lagi.
Kata Menko Perekonomian
Baca juga: Rupiah Anjlok Jadi Rp17.300 per Dolar AS, Pengamat: Terburuk, tapi Tak seperti Krisis 1997-1998
Tak beda jauh dengan Josua, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, juga mengatakan pelemahan rupiah tidak lepas dari kondisi eksternal.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan dan menyiapkan langkah antisipasi.
“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Airlangga lantas mengingatkan, asumsi nilai tukar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 berada di level Rp16.500 per dollar AS. Perkembangan terbaru menjadi perhatian pemerintah.
Baca tanpa iklan