Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Profil Muhammad Qodari, Eks KSP Kini Jabat Kepala Badan Komunikasi Pemerintah

Qodari sebelumnya dikenal sebagai penggagas Jokowi-Prabowo 2024 (Jok Pro 2024) yang sempat membuat publik dibuat heboh. 

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Rifqah

Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo Subianto kembali lakukan reshuffle kabinet kelima sejak dilantik Oktober 2024
  • Muhammad Qodari dilantik jadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, tinggalkan jabatan KSP
  • Posisi Kepala Staf Kepresidenan kini diisi Dudung Abdurachman usai reshuffle kabinet terbaru

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle kabinet pada Senin (27/4/2026). 

Perombakan ini menambah daftar perubahan jajaran kabinet di era pemerintahan Prabowo, menjadi kali kelima Kepala Negara melakukan perubahan posisi di jajaran kabinet sejak dilantik pada 20 Oktober 2024.

Salah satu yang terkena reshuffle pada 2026 ini adalah Kepala Staf Presiden (KSP), Muhammad Qodari.

Muhammad Qodari dilantik menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.

Sementara itu jabatan Kepala Staf Kepresidenan yang ditinggalkan Qodari diisi oleh Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebelumnya, Qodari tampak datang ke Istana, namun tidak mengkonfirmasi apapun terkait kedatangannya itu.

Dia hanya mengatakan bahwa soal reshuffle ini merupakan hak prerogatif presiden.

"Itu semua prerogatif Presiden," ungkapnya kepada wartawan, Senin.

Lantas, seperti apa profil Qodari?

Profil Muhammad Qodari

Qodari merupakan pengamat dan peneliti di Indonesia yang lahir pada 15 Oktober 2973.

Baca juga: M Qodari Dikabarkan Bakal Direshuffle Prabowo dari Jabatan KSP: Kita Tunggu Saja

Dia menyelesaikan sarjananya (S1) di Universitas Indonesia, dengan jurusan Psikologi Sosial. 

Qodari kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana (S2), di University of Essex, Inggris, dengan mendalami bidang political behavior.

Kemudian, dia mendapatkan gelar Doktor Ilmu Politik tahun 2016 di Fisipol, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat yang sangat memuaskan. 

Ia mengangkat "Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya Pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014" di dalam disertasinya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas